Selasa, 19 Juni 2012

Sepotong Senja Untuk Pacarku
Mungkin dalam ratusan cerpen Seno Gumira Ajidarma, aku adalah Sukab dengan cerita "Sepotong Senja Untuk Pacarku". Sukab yang berdiri di bibir pantai memandang senja, burung-burung, pasir yang basah dan siluet batu karang. Sukab yang memotong senja dan Sukab yang ingin mengirimkan sepotong senja itu untuk pacarnya, Alina. 

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.”*1

 Ya, aku memang seperti  Sukab, Sukab yang sangat mencintai Alina. Sukab yang mengemudi  mobil Porsche abu-abu meluncur melewati tol, berkejaran dengan Polisi yang terus mengejar karena ketahuan mencuri senja.

“Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapapun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.”*2

 Seperti Sukab yang begitu keras mempertahankan sepotong senja untuk pacarnya, akupun ingin seperti itu mempertahankan apa yang menurutku memang indah lalu mengirimkannya melalui pos. 

Tapi diriku memanglah Sukab, Sukab yang begitu bodoh seperti dalam cerita “Jawaban Alina”.

“Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,”*3

“Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin,  beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus kukatakan sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu.”*4

Sukab yang merasa selama ini Alina begitu mencintainya, tapi ternyata tidak.
 
“Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak Himalaya.”*5

“Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan kulipat menjadi perahu kertas, dan kulayarkan ke laut lepas.  Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu . Kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta—betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu. Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.”*6

Melalui sepotong senja yang kukira sudah terkirimkan sepuluh tahun yang lalu selama itu pula aku menunggumu. Seperti tulisanku dalam blog ini entah apakah nasib waktu akan menjodohkan kamu untuk membacanya. Dan aku tidak akan pernah tau juga balasanmu yang kau tulis dan kau lipat menjadi perahu kertas akan aku baca suatu saat nanti. 

*1 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 6
*2 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 13
*3 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 183
*4 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 185
*5 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 188
*6 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 190

Untuk membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma :
 "Sepotong Senja Untuk Pacarku"
 http://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
"Jawaban Alina" 
http://duniasukab.com/2007/06/11/jawaban-alina/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar