Sepotong Senja Untuk Pacarku
Mungkin dalam ratusan cerpen Seno
Gumira Ajidarma, aku adalah Sukab dengan cerita "Sepotong Senja Untuk Pacarku".
Sukab yang berdiri di bibir pantai memandang senja, burung-burung, pasir yang
basah dan siluet batu karang. Sukab yang memotong senja dan Sukab yang ingin
mengirimkan sepotong senja itu untuk pacarnya, Alina.
“Kukirimkan
sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong
senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada
dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir
tenggelam ke balik cakrawala.”*1
Ya, aku memang seperti Sukab, Sukab yang sangat mencintai Alina.
Sukab yang mengemudi mobil Porsche abu-abu meluncur
melewati tol, berkejaran dengan Polisi yang terus mengejar karena ketahuan
mencuri senja.
“Aku
berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapapun ini lebih baik
daripada harus menyerahkan senja Alina.”*2
Seperti Sukab yang begitu keras mempertahankan
sepotong senja untuk pacarnya, akupun ingin seperti itu mempertahankan apa
yang menurutku memang indah lalu mengirimkannya melalui pos.
Tapi diriku
memanglah Sukab, Sukab yang begitu bodoh seperti dalam cerita “Jawaban Alina”.
“Sukab
yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,”*3
“Kamu
tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan
rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong
Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin, beranak pinak dan berbahagia.
Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih
isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau
toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus kukatakan
sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu
Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak
mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong
sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol
itu.”*4
Sukab
yang merasa selama ini Alina begitu mencintainya, tapi ternyata tidak.
“Aku
menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak Himalaya.”*5
“Sukab,
Aku
akan mengakhiri surat ini, akan kulipat menjadi perahu kertas, dan kulayarkan
ke laut lepas. Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah
bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku.
Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu . Kupandang senja yang
abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan
hanya karena cinta—betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata
tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti
menjanjikan suatu perpisahan yang sendu. Selamat
berpisah semuanya. Selamat tinggal.”*6
Melalui
sepotong senja yang kukira sudah terkirimkan sepuluh tahun yang lalu
selama itu pula aku menunggumu. Seperti tulisanku dalam blog ini entah
apakah nasib waktu akan menjodohkan kamu untuk membacanya. Dan aku tidak
akan pernah tau juga balasanmu yang kau tulis dan kau lipat menjadi
perahu kertas akan aku baca suatu saat nanti.
*1 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 6
*2 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 13
*3 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 183
*4 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 185
*5 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 188
*6 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 190
Untuk membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma :
"Sepotong Senja Untuk Pacarku"
http://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
http://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
"Jawaban Alina"
http://duniasukab.com/2007/06/11/jawaban-alina/
http://duniasukab.com/2007/06/11/jawaban-alina/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar