P A T U N G
Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil
menunjuk diriku.
“Lihatlah orang bodoh itu,”
katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.”
Kulihat gadis disampingnya,
menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis
manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran.
“Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa
kepastian untuk kembali. Nanti engkau juga akan menjadi patung seperti dia.”
Gadis itu memandangku dengan takjub. Berbeda dengan pandangan neneknya
yang penuh pelecehan.
“Tapi nek, bukankah itu berarti dia sangat setia?”
“Itu bukan setia namanya. Itu bodoh.”
“Katanya kalau kita mencintai seseorang, kita harus setia kepadanya.”
Nenek itu mengalihkan pandang dariku, menatap gadis itu dengan tajam.
“Cinta itu ada dua. Yang pertama cinta buta. Yang kedua cinta pakai Otak.
Yang pertama biasanya membuat kita menderita. Yang kedua biasanya membuat kita selamat.”
Lantas nenek itu menuding kepadaku.
“Cinta orang bodoh itu termasuk cinta buta. Sudi amat dia menunggu
kekasihnya ditempat ini sampai menjadi patung.”
Gadis itu masih menatapku dengan takjub.
“Tapi barangkali dia bahagia nek.”
Neneknya menjawab sambil melongos, dan melangkah pergi.
“Aku tidak tahu, apakah orang yang menunggu selama dua ratus tahun masih
bisa bahagia. Apalagi sampai jadi patung.”
Aku melihat mereka pergi menjauh. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada
mereka. Tapi aku memang sudah menjadi patung. Seluruh tubuhku mulai dari ujung
jari kaki sampai ujung rambutku telah menjadi batu. segenap urat syaraf, darah,
kulit, usus, jantung dan paru-paru, apapun dari tubuhku telah menjadi batu,
sehingga akupun menjadi patung. Aku tinggal pikiranku. Menatap ke satu arah
tanpa bisa menoleh.
Di arah itulah, di mana selama duaratus tahun aku menatap matahari turun
perlahan-perlahan ke balik gunung, aku menunggu dia muncul seperti yang dia
janjikan duaratus tahun yang lalu.
“Kamu mau kemana, sayang?”
“Tunggulah disini, aku pergi cuma sebentar.”
“Ke mana?”
“sebentar.”
“Mau ngapain?”
“Aku pergi cuma sebentar, tunggulah disini, aku segera kembali setelah
iblis itu mati.”
“Jadi dikau akan pergi memburu iblis, sayang?”
“Ya, aku harus membunuhnya, setelah itu aku baru bisa pacaran dengan
tenang. apakah kamu akan menunggu aku sayang?”
Aku tidak menjawab, namun dia tahu aku akan menunggunya sampai mati. Aku
terus menerus berdiri di tempat ini menunggu senja tiba seperti dijanjikannya.
“Aku tidak akan terlalu lama, aku akan muncul di ujung jalan itu ketika
senja. Aku akan muncul ketika matahari yang jingga dan membara turun di antara
dua gunung itu. Dikau akan melihatku sebagai siluet. Muncul sebagai
bayang-bayang hitam berambut panjang yang berlari menujumu. Tunggulah aku
disini, di luar desa ini, aku akan muncul di ujung jalan itu menenteng kepala
iblis sebagai hadiah untuk perkawinan kita.”
Dia memang tahu segalanya. Hampir tiada hal yang tiada diketahuinya
seperti dia tahu bahwa iblis sebetulnya tidak pernah mati. Pada saat itu pun
aku tahu betapa aku akan terus menerus menunggui kedatanganya sampai mati.
Namun barangkali inilah yang tidak pernah diketahuinya: ternyata aku tidak
mati-mati. Aku terus menerus menunggu dari senja ke senja sampai dua ratus
tahun sampai lama-lama menjadi patung. aku terus menerus menanti dan
mengharapkannya, siapa tahu dia muncul dari ujung jalan setapak itu sebagai
siluet wanita berambut panjang yang menenteng kepala iblis.
Orang-orang desa yang lewat menuju ke sawah dengan santun selalu
bertanya.
“Janjian nih?”
“Iya mang.”
“Ke mana sih dia?”
“Pergi sebentar mau membunuh iblis.”
“Aduh jang, Iblis mah kagak bisa dibunuh.”
“Biarinlah mang, sudah maunya begitu.”
“Jadi mau menunggu terus nih?”
“Iya mang, namanya juga pacar.”
“Bagus Jang, tunggu saja, namanya juga pacar, katanya kapan kembali?”
“Katanya sih setelah senja tiba.”
“Senja kapan?”
“Senja setelah iblis itu dibunuh.”
Orang-orang desa dengan santun menyimpan ketawanya sampai di kejauhan,
meskipun aku selalu bisa mendengarnya. Lama-lama aku terbiasa. Dan lama-lama
orang-orang desa pun tidak bertanya-tanya lagi. Semua orang tahu kenapa aku
berdiri di pertigaan itu, menatap terus menerus ke arah cakarawala dimana
matahari senja selalu tenggelam di utara dua gunung itu, seperti lukisan anak-anak
sekolah dasar.
“Kenapa orang itu?”
“Oh, dia orang yang sedang menunggu kekasihnya.”
“Memangnya kemana kekasihnya itu?”
“katanya pergi untuk membunuh iblis.”
“Jadi dia menunggu kekasihnya?”
“Iya.”
“Dan kekasihnya itu baru akan pulang setelah membunuh iblis?”
“Iya.”
“Kasihan,”
“Kok kasihan?”
“Barangkali kekasihnya sudah kawin sama orang lain.”
***
Aku terus menerus berada di sana, di pertigaan di luar desa menghadap
sawah membentang seperti permadani. Kemudian tumbuh pohon beringin di pertigaan
itu. Akarnya membelit-belit badanku. Aku tidak bisa berkutik karena telah
menjadi patung. Tiada yang bisa kulakukan selain menunggu. Hidup tidak
memberiku banyak pilihan selain mencintai dia. Aku akan terus menerus menunggu
dari senja ke senja. Lagi pula aku sungguh menyukai langit senja, membayangkan
dia akan muncul dari balik cakarawala di latar belakangi langit ungu dengan
mega-mega yang terpencar dalam semburat cahaya jingga yang membakar.
Sudah dua ratus tahun aku menatap ke barat, sudah dua ratus tahun aku
menatap senja demi senja yang gemilang dengan permainan warna dan cahaya.
Menatap senja bagaikan menatap dirinya. Kubayangkan di balik cakrawala itu ia
bertempur melawan iblis yang tidak akan pernah mati. Dengan pedang samurainya
yang berkilat ia bagaikan menari-nari di tengah api jelmaan iblis yang berusaha
membakar dan menghanguskannya. Segala hal bisa kubayangkan tentang apa saja
yang mungkin terjadi dibalik cakrawala itu. Kenapa tidak? Semenjak menjadi
patung, aku tinggal pikiran. Seluruh tubuhku membatu sehingga aku tidak bisa
bergerak kemana-mana. Akar-akar pohon melilit tubuhku tanpa aku bisa berkutik.
Pohon beringin tumbuh menjadi besar sehingga membuat tempatku berdiri mematung
itu rindang. Banyak orang suka berteduh disini, menghindar dari terik panas
matahari. Mereka menambatkan kuda atau kerbaunya ke tubuhku, lantas tidur di
bawah pohon beringin. Mereka akan bangun setelah senja tiba.
“Hei lihat, patung itu menatap senja.”
“Ya, Kata orang-orang tua desa ini, patung itu dulunya orang betulan.”
“Orang betulan?”
“Ya, Orang betulan yang berdiri disitu, menunggu kekasihnya yang pergi
untuk membunuh iblis.”
“Membunuh Iblis?”
“Iya.”
“Sedangkan sampai sekarang pun iblis tidak mati-mati.”
“Lha iya, konyol betul orang itu. Barangkali kekasihnya itupun sudah mati
sekarang. Lha wong iblis masih berkeliaran.”
“Ya, begitulah, tapi orang ini pokoknya menunggu.”
“Orang itu patung ini?”
“Iya, patung ini”
“Jangan-jangan dia mendengar kita.”
Aku memang mendengarnya. Aku mendengar segalanya tumbuh. aku mendengar
burung berkicau diatas kepalaku. Aku mendengar desis ular merayap diantara
akar-akar yang mebelit kakiku. Aku mendengar desaku tumbuh menjadi kota,
sawah-sawah berubah menjadi pasar. Dan di belakang pasar itu tumbuh
gedung-gedung yang megah. Matahari senja yang turun selalu terjepit diantara
gedung-gedung bertingkat itu. Jalanan setapak di depanku kini beraspal, dan
diujungnya bersambung dengan jalan tol. Hanya tinggal aku dan pohon beringin
yang masih tertinggal dari masa lalu. Muncul jalan kereta api entah darimana,
dan dibelakang punggungku nampaknya dibangun stasiun. Aku hanya mengira-ngira
karena aku tidak bisa menoleh. Tapi kulihat orang-orang menggendong ransel,
menyeret kopor dan berjalan tergesa-gesa karena takut terlambat. Dunia telah
menjadi tempat yang sangat riuh. Aku terus menerus menatap kedepan menunggu
seorang wanita yang indah muncul pada suatu senja sambil menenteng kepala
iblis. Kemudian para petugas dari kotapraja membuat pagar disekeliling pohon
beringin itu. Mereka menancapkan sebuah papan didekat pagar bertuliskan
keterangan tentang diriku. Di dalam stasiun, kios-kios koran dan majalah juga
menjual buku kecil yang menceritakan riwayat hidupku. Sambil menunggu kereta
api orang-orang suka melewatkan waktu memandangku. Mereka mengeja keterangan
dipapan itu, atau membaca buku kecil yang dijual murah itu sambil menatap
diriku. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang mengangkat bahu, ada
yang bibirnya mencibir. Banyak juga yang senang berfoto-foto dengan latar
belakang aku. Pasangan-pasangan berpelukan didepanku, minta tolong kepada
orang-orang yang lewat supaya dipotret. Rombongan turis juga suka bergerombol,
berfoto bersama didepanku sambil tertawa-tawa. Pemandu mereka biasa
berteriak-teriak lewat corong pengeras suara.
“Inilah patung Lelaki Yang Menunggu Kekasihnya. Patung ini tidak dipahat
oleh siapapun karena dia berasal dari manusia yang hidup. Duaratus tahun yang
lalu ia berpisah ditempat ini dari kekasihnya, yang pergi untuk …”
***
Suatu ketika kulihat gadis manis yang datang bersama neneknya itu, tapi
kali ini ia datang bersama seorang lelaki yang nampaknya juga akan berpergian
naik kereta api.
“Lihatlah patung ini, ” ujar lelaki itu, “Dia orang yang menunggu
kekasihnya sampai jadi patung.”
“Aku tahu,” kata gadis itu, “nenekku yang cerita.”
“Kamu bisa seperti dia?”
“Maksudmu?”
“Bisa menunggu aku sampai aku kembali?”
“Aku selalu setia padamu, kapan kamu kembali?”
“Kalau tugasku sudah selesai.”
“Apa tugasmu?”
“Membunuh Iblis.”
“Tapi iblis tidak pernah mati!”
“Aku tidak peduli. Harus selalu ada orang yang membunuh iblis, meskipun
iblis tidak akan pernah mati.”
Terdengar peluit kereta api. Mereka berpelukan dan berciuman. Lantas
lelaki itu memasuki stasiun. Kulihat gadis itu melambai-lambaikan tangan.
Esoknya dia datang lagi. Duduk dibangku yang ada dihadapanku sambil
meberi makan burung-burung dara. Sebentar-sebentar dia melihat jam tangannya.
Aku tahu, dia akan terus menunggu di bangku itu, sampai jadi patung.
Jakarta, 23 januari 1999
Iblis Tidak Pernah Mati | Patung | Halaman 159-171
Seno Gumira Ajidarma
Sebenarnya banyak dijumpai pula "patung-patung" disekitar kita. Patung yang dimaksud adalah orang yang mengesampingkan rasionalitas karena terlalu dimabukkan oleh apa yang dilihatnya baik. Tetapi apa yang dianggapnya baik, belum tentu sepenuhnya baik. Karena baik yang sesungguhnya hanya bisa dilihat dengan pikiran yang terbebaskan, yang tidak dilabeli.