Sabtu, 30 Juni 2012



Bagian terberat dari segala sesuatu dalam hidup, 
adalah memikirkannya.


Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1 Halaman-268
Ajahn Bram


Sekarang saya menemukan alasan yang tepat untuk kembali tersenyum setiap hari, lagi.

Jumat, 29 Juni 2012

Pernikahan beda agama


Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Potongan lirik tersebut dibawakan apik oleh Marcell - Peri Cintaku.

Pernahkah kalian berpikir "kenapa aku dilahirkan dikeluarga ini" "kenapa aku memeluk agama ini" "kenapa begini dan kenapa begitu". Tulisan ini tidak untuk memperdebatkan, menyesali apa yang Tuhan berikan kepada kita tetapi hanya untuk bahan perenungan. Lama aku berpikir mencari satu persatu jawaban dari pertanyaan diatas. Semisal ketika aku berkenalan dengan lawan jenis, ketika aku mengetahui dia berbeda keyakinan denganku semacam ada pembatasan (dalam hati) tak kasat mata untuk hanya bisa sekedar berteman tidak lebih. Walaupun setiap perkenalan dengan orang baru tidak lantas semuanya berujung ke hubungan yang serius ya (pacaran). Atau tertanam dari pesan banyak orang tua kepada anaknya untuk mencari pasangan hidup seiman. Tulisan ini tidak mencoba memperdebatkan teologis, apakah pernikahan (pacaran) beda agama diperbolehkan ataukah tidak, melainkan sekadar merenungkan  masalah yang muncul dari pasangan yang berbeda agama. Banyak cerita diantara teman-temanku yang mulai mempertanyakan pernikahan beda agama ini, karena hubungan mereka dengan pasangan beda agama mereka yang mulai serius. Saking penasarannya aku dengan pertanyaan tersebut, aku meluangkan waktu untuk mencari buku tentang pernikahan beda agama dan akhirnya aku menemukan buku di perpustakaan UAJY  "Halangan-halangan nikah menurut Gereja Katolik" karangan Dr. Alf. Catur Raharso Pr, lalu sebuah tulisan bersumber dari www.e-psikologi.com berjudul "Pernikahan beda agama " pelengkapnya aku membaca di Gramedia buku tulisan Ahmad Nurcholish "menjawab 101 masalah nikah beda agama". Dari beberapa sumber yang saya pelajari tersebut sebenarnya setiap agama tidak menyarankan perkawinan beda agama, (menurut pandangan Katolik) karena Mengingat relevansi iman terhadap perkawinan sakramental dan pengaruh sakramen perkawinan bagi kehidupan iman itulah Gereja Katolik menginginkan agar anggoranya tidak melakukan perkawinan campur. Disamping itu perlu diindahkan, yakni bahwa setiap orang dilarang melakukan sesuatu yang membahayakan imannya. Iman adalah suatu nilai yang amat tinggi, yang perlu dilindungi dengan cinta dan bakti. Namun pihak gereja juga ingin bersikap realistis. Ia mengakui setiap orang memiliki hak untuk bebas menentukan status hidupnya, entah hidup menikah atau tidak menikah (selibat) Kanonik.219. Dan kalau seseorang memilih untuk menikah, ia bebas menentukan jodohnya sendiri, sekalipun berbeda iman atau agama. Sepengetahuan saya sekarang ini di Indonesia sendiri kantor pencatatan sipil tidak akan mencatatkan pernikahan beda iman. Mereka hanya akan mencatatkan pernikahan satu iman, masalah sah atau tidak negara menyerahkan kepada tiap-tiap agama. UU RI No 1 Tahun 1974 Bab1 Pasal 2 ayat 1 menyebutkan "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."  Idolaku Rio Febrian pun mengalami masalah serupa, RF memeluk Kristen dan istrinya Sabina Kono memeluk agama Islam mereka terpaksa melangsungkan pernikahan di Bangkok. Ini juga bukan sekedar sahnya suatu hubungan, tetapi bagaimana ikatan diantara kedua jiwa, kedua iman ini dapat terjadi. Aku penasaran sekali dengan pernikahan beda agama ini karena sering pula aku menjalin hubungan dengan orang beda agama.  Pasangan yang memulai hubungan beda keyakinan banyak beranggapan masalah mereka tentang keyakinan akan terselesaikan dengan seiringnya waktu, sebenarnya itu tidaklah benar. Cinta yang menggebu diawal pasti ada titik terendahnya juga, disitu (jika sudah memasuki pernikahan) akan terasa problemanya. Sebelum memutuskan menikah beda agama kedua pihak haruslah mempunyai batasan yang jelas tentang hubungan mereka kedepan. Pernah ga kalian mencintai seseorang, tetapi setelah menyadari kalian berbeda keyakinan kalian menjerit dalam hati bertanya kenapa ini? Nyesek ga sih? Cinta memang tidak bisa memilih, namun agama juga tidak bisa dipersalahkan juga ini untuk kebaikan bersama. 


Sempat aku berbicang pula dengan seorang Psikiater, setelah lama kita berbincang akhirnya kita menyimpulkan bahwa titik terberat pernikahan beda agama itu bukan saja ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai (berbeda agama tersebut) namun bagaimana kita menikahkan kedua keluarga kita (keluarga pria dan keluarga wanita). Karena hubungan kita tidaklah mulus jika didalam keluarga saling bertentangan. Banyak sekali problema kehidupan, karena untuk itulah manusia diciptakan, untuk menjalaninya. Kita tidak pernah bisa memilih kehendak Tuhan, kapan kita dilahirkan, dimana, dari keluarga mana, memeluk keyakinan apa, jatuh cinta dengan siapa (seiman atau tidak) marilah kita syukuri apa yang kita terima dan tetap menjalani hidup ini dengan masalah-masalahnya. 


Aku tidak akan membatasi cintakku kepada siapapun.. Kita sama sama manusia kenapa kita tidak membebaskan untuk mencintai siapapun sekalipun harus berbeda status, agama, budaya, suku dll. 
Nomaden #hore


Berawal dari keprihatinan 5 anak manusia Rio, Ardi, Henny, Arum, Renny  melihat bencana erusi merapi 2010 lalu, kami merasa terpanggil untuk membantu korban bencana selagi banyak mahasiswa/i disuruh pulang orang tuanya karena khawatir merapi meletus hebat saat itu. Hujan pasir dan hujan debu memperparah keadaan jogja. Pada awal bencana, Nomaden bergerak mencari dana di sekitar kampus. Lalu dana yang terkumpul waktu itu dibelanjakan nasi bungkus untuk dikirim langsung ke posko bencana di Van Lith Muntilan. Bukannya gampang berkendara diatas pasir dan lumpur tebal dijalan, kedua yang membawa nasi bungkus sepat tergelincir beberapa kali saking licinnya jalan. Melewati jalan Magelang serasa memasuki wahana di dunia fantasi alangkah luar biasanya kekuatan alam, batu-batu berasal dari Merapi seukuran mobil di Kali Putih yang merontokkan jembatan, pohon-pohon kelapa yang tertutup pasir dan kanopi rumah yang kompak ambruk karena tidak kuat menopang beratnya pasir dan debu.

Kami pada waktu itu berkoordinasi dengan posko bencana Momento Cafe Jl Jembatan Merah (Sekarang di Ringroad Utara), posko momento juga membuka gerakan nasi bungkus untuk disebar ke posko-posko yang belum tersentuh bantuan pemerintah. Posko Momento Cafe digawangi Mas Peye berkoordinasi menggunakan HTnya untuk mencari posko mana yang belum tersentuh bantuan. Bantuan pemerintah Yogya pada waktu itu masih terpusat di Stadion Maguwoharjo saja. Selain aktif mencari dana Nomaden juga sempat membantu dapur umum bersama puluhan relawan lainnya di Momento Cafe, kupas bawang, potong wortel, bungkus nasi dan lainnya. Pelajaran pertama saat bencana itu adalah pikiran semua manusia yang sama yang ingin menolong dengan mengirimkan nasi bungkus atau mie instant alhasil ratusan bahkan ribuan nasi menjadi basi karena melimpahnya persediaan. Tetapi keperluan kecil yang tidak terpikir seperti pembalut, obat sakit ringan, susu bayi, bubur bayi malah menjadi keperluan vital yang terlupakan.

Sama seperti namanya Nomaden, kami selalu berpindah-pindah dalam membantu korban. Diantara kami ada yang membantu di posko SMP Kalasan bersama Mahasiswa Janabadra,dan bergabung dengan BNPB (Badan Nasional Penangulangan Bencana). Di posko kalasan  kami membantu angkut-angkut barang, membagikan makan prihatin juga melihat banyak orang kehilangan rumahnya. Di BNPB awalnya kami diberi kepercayaan mendata posko seperti lokasi posko, asal pengungsi, jumlah pengungsi, ketersediaan sarana penunjang, kebutuhan mendesak.  Karena tau kami mahasiswa/i informatika kami diberi kepercayaan untuk mengembangkan software sistem informasi lokasi pengungsi. Sistem informasi  tersebut menjelaskan lokasi pengungsi, jumlah pengungsi, pemerataan bantuan agar bantuan yang diberikan merata dan tidak terpusat di satu titik. Nah masalahnya, pada saat kami bertanya kepada atasan divisi IT apa tools yang digunakan untuk membuatnya, bapak itu tidak memberikan jawaban memuaskan (dianya sendiri seperti tidak paham cara membuatnya).

Kami merasa apa yang kami lakukan masih kurang dibandingkan dengan apa yang dirasakan korban, lalu saya mengirimkan sms ke saudara di Jakarta dan di Bandung memohon bantuan donasi. Puji Tuhan karena kepercayaan, banyak donatur yang turut menyumbangkan rupiah. Ini bukan masalah nominal yang diberikan sekali lagi bukan tetapi lebih kepada besarnya kepercayaan yang diberikan kepada kami, Nomaden. Jumlah bantuan terus mengalir, sampai-sampai suatu pagi saya mendapat pesan pendek bahwa pagi itu sudah ditransfer ke rekening jumlah uang yang menurut ukuran mahasiswa seperti kami sungguh luar biasa besar.

Nomaden tidak langsung membelanjakan semua uang tersebut, kami tetap berkoordinasi dengan Momento Cafe kebutuhan apa saya yang paling dibutuhkan dan dimana saja lokasinya. Berbekal informasi tersebut kami membelanjakan kebutuhan seperti bubur bayi, pakaian dalam, obat ringan, sembako lengkap. Bantuan sembako seperti beras, mie, minyak, gula kami bagi menjadi kantong-kantong kecil. Nomaden membelanjakan langsung di pasar Beringharjo, karena harga disana termasuk miring. Masalahnya sekarang, bagaimana membawa ratusan kantong sembako dan kebutuhan lain ke tempat terpelosok dengan medan yang dikabarkan ekstrim? Sekali lagi tangan Tuhan membuka jalan, kami mendapat bantuan dari PP VW region Jogja. Nomaden mendapat tumpangan 1 mobil VW Combie langsung disupiri oleh ketua PP VW Jogja. Ternyata mobil tua tetapi stamina mesin tetep ga kalah lo dengan mobil tahun 2000an. Untuk medan yang ekstrim ada juga Jeep yang siap membantu dari Cendra Hogy, anak ketua salah satu komunitas Jeep Jogja, tidak lupa Andy Zico untuk medan standart tidak lupa Albertus Ndaru dengan Pick Up nya siap membawa bantuan kayu bakar. Kalau semua mobil sedang dipakai mengirim bantuan nomaden tak surut semangat masih ada sepeda motor menemani kami, kami sempet lo ngirim bantuan berupa beras, perlatan masak yang segede gaban cuma pakai motor sampai ke Deles Klaten. Padahal medan yang kami tuju menanjak dan masuk daerah ring bahaya letusan 1.

Dari tragedi merapi ini kami mendapat banyak kenalan baru, kisah suka duka, manajemen emosi dalam kelompok pokoknya seru (diatas bencana kok seru). Yang terkesan sampai saat ini, saat aku bertemu dengan orang yang duduk bersama temannya di depan pintu sebuah ruangan. Jangankan no telp nya, namanya saja aku gak tau. Aku lupa bagaimana cara kita berkenalan, tapi ternyata waktu memang mempertemukan bahkan memperkenalkan kita.

"Terbuat dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi" - Kyoto Monogatari halaman 60 - Seno Gumira Ajidarma -

Ga kerasa selama itu Nomaden sudah menjelajah daerah Gantiwarno klaten, Deles Klaten,Dukun Muntilan, Mungkid Muntilan, Sawitan, Muntilan, Saban daerah Ketep, Promasan Kulon Progo, Piyungan. Penjelajahan belum sampai disitu, aku dan Ardi sempat diminta bantuan Pandhu teman dari Komunikasi UAJY untuk mendistribusikan bantuan dari artis-artis seperti Nicholas Saputra dan crew fim di Jakarta. Benar, malam itu aku meluncur ke rumah Devi Carisa di daerah Muntilan yang dijadikan base camp. Malam itu datang bantuan 1 truck berisi genset 2200w sebanyak 10 buah dan beberapa karung pakaian layak pakai dari artis-artis, susu, bubur bayi dan uang untuk dibelanjakan bantuan sembako. Gila bagi 10 genset gimana caranya biar tepat sasaran? Untung di masa modern ini ada Twitter yang bisa di menyebarkan informasi daerah mana yang listrik masih padam dengan cepat. Genset itu hibah dari donatur industri film Indonesia. Malam itu datang pula dari Jakarta Pak Yadi Sugandi, bapak-bapak dengan kacamata tebal dan perawakan agak kurus yang mengawal distribusi bantuan. Ternyata Pandhu dan Pak Yadi Sugandi belum pernah bertemu namun mereka terlihat akrab sekali. Twitter ternyata penyebannya. Keesokan harinya, aku Pandhu dan Pak Yadi Sugandi meluncur ke salah satu daerah di Borobudur untuk meninjau langsung distibusi bantuan. Dan disitu aku baru tau, ternya Pak Yadi Sugandi adalah seorang sinematografer yang juga sutradara film "MERAH PUTIH". Bawaan Pak Dop sapaan akrabnya sangat merendah, gak sombong pokoknya seru lah. Setelah kepulangan Pak Yadi Sugandi ke Jakarta masih ada satu genset yang dipinjamkan, kali ini bukan genset biasa. Genset 60.000w seukuran bak truck beserta BBM dipinjamkan untuk bantuan distribusi listrik. Bayangin aja, genset untuk konser dipakai buat sumber listrik desa yang rata-rata daya tiap rumah 400-900w. Listrik 1 desa bisa terpenuhi, bahkan lebih. Biaya BBM genset ini gak murah lo, per malam (asumsi 12 jam)  sekitar 300-400rb, itupun dibiayai dari donatur wahh banyak juga orang kaya yang inget orang menderita ya. Setelah semuanya mulai kondusif, pemerintah mulai ambil peranan menjalankan kewajibannya menngatasi bencana.

Nomaden diundang Relawan Momento Cafe ke acara "Malam Relawan". Bertempat di base camp Momento Cafe di Jl. Jembatan Merah , malam itu semua relawan berkumpul bernyanyi bersama dan menikmati sajian yang semuanya gratis. Seru berkumpul, bercerita, berbagi pengalaman bersama apalagi ada Djaduk Ferianto yang ikut memeriahkan. Nomaden Hore semoga kita bisa bersama lagi tanpa harus terjadi bencana, di acara nikahanku kali ya kalian jadi WO nya? (Kalau nikah :D )

Terus terang akupun tak pernah mengerti, dari begitu banyak pilihan untuk tetap tinggal diam, dan mengagumi tanpa diketahui, tapi aku lebih suka memilih untuk menyapa, dan berkata "halo, ini aku lo, Yoannes Rio Pujatmiko apakah kamu suka mendengarkan? karena aku suka bercerita" setidak-tidaknya ketika perpisahan entah dengan cara apapun, bahkan tanpa diketahui, tapi seseorang telah mengetahui aku "Yoannes Rio Pujatmiko" , dan biar dia memutuskan untuk mengingatku dengan cara dan seperti apa, atau menganggap tidak tahu. Terima kasih untuk orang yang sudah menuliskan ini

Kamis, 28 Juni 2012

04:12 Pagi ini aku terbangun dan memikirkan apa yang baru saja aku mimpikan. Sekali lagi seperti dengan beberapa waktu lalu aku tulis aku tidak sedang begitu merencanakan mimpiku. Ada seorang gadis kecil bermain denganku karena kesepian di sebuah tanah lapang. Dengan gembira kami bermain dan bernyanyi bersama. Hingga suatu ketika ibunya datang dengan muka yang sangat marah melihatku. Ibunya datang dan memberiku uang puluhan ribu, menganggap aku seorang pesuruh. "Siapa kamu? lihat dirimu" itu tutur sang ibu ketika aku mendekatimu. Lalu kamu beranjak pulang bersama ibumu, walaupun sebenarnya dia selalu kesepaian dan menangis didalam kamarnya. Mungkin kita dulu pernah bertemu, bertemu disaat dia masuk dalam boneka jerapah yang terbuat dari kertas. Sampai aku mengetikkan tulisan ini, aku berharap ini hanya mimpi. Mimpi yang tidak terjadi dikehidupan nyata dimana mungkin kita nanti bisa dekat dan ibumu....

Rabu, 27 Juni 2012

Akhirnya

Satu fase terlewatkan, tugas terakhir untuk dikumpul di ujian besok siang selesai juga.
Semoga ini tugas terakhir sebelum semester depan bercinta dengan skripsi. Ya setidaknya liburan singkat sudah didepan mata. Mau Backpack kemana ya? Jakarta, Bandung atau Karimunjawa? Kalau liburan itu mengenal istilah SKS, mungkin tiap semesternya aku ambil 24 SKS dan selalu mendapat IP 4.
Aku selalu menikmati setiap liburanku dengan caraku, ya cara berlibur yang kadang sendirian.

Diawali awal tahun di Jakarta bersama keluarga besar, lebih tepatnya tugas kenegaraan jemput keluarga Jakarta pulang ke Jogja. Lalu bulan Februari kembali ke Jakarta transit beberapa hari dan mengunjungi teman-teman #STMJ di tempat kerja mereka BSD. Lalu liburan dilanjutkan menuju Medan, kota yang baru pertama aku injak. Kota yang menyuguhkan keunikan-keunikannya, semisal kereta (sebutan untuk sepeda motor) yang diangkut diatas motor (sebutan angkutan umum), lalu kebiasaan anak-anak yang naik diatap motor sepulang mereka sekolah. Medan menyuguhkan keunikan tersendiri, ciri khas kota yang panas, berdebu dan kota dengan tingkat kesemrawutan pengendaranya yang bukan main.Oh iya, waktu itu saya beli tiket Jakarta Medan cuma Rp160.000 lo itupun PP.

Bulan Mei berkunjung ke pulau Dewata selama 3 hari berziarah "disambi" liburan ke beberapa tempat standart seperti Kuta, Benoa dsb. Di Bali tadinya kencan ketemuan Kembar & Ciri adiknya Titin tapi batal, janjian sama Widya juga batal gara-gara Bali macet dimusim liburan. Sebenernya punya segudang temen di Bali tapi mereka pas lagi gak pada pulang kampung kan lumayan dapet gratisan makan. Dalam kamus BackPacker ku tertulis "Kalau ada yang gratis, kenapa pilih yang paling murah?" Oh iya, oleh-oleh dari Bali itu kapan aku anterin ya?

Pertengahan Juni ini Dieng aku hirup pula udaranya, ya sama seperti Dieng dimana dulu aku dan dia menghirup udara itu. Lalu akhir Juni ini masih ada satu tempat yang hendak aku singgahi, Solo. Tanggal 30 Juni ini akan diadakan Solo Batik Carnival 5, tahun lalu aku ikut memeriahkan SBC 4 dengan dandanan batik klasiknya. Ya, tahun lalu aku sempet tinggal di Solo 2 minggu untuk menyelesaikan Kerja Praktek di salah satu tour agent ternama . Rame dan serunya SBC tahun lalu bikin nagih, sabtu ini rencanya aku pergi dengan membawa seabrek pasukan dari Atma Jaya.

Juli besok kemana ya?
Pulang ke kotaMu?


Aku Rasa

Aku rasa dengan membaca banyak buku-buku psikologi, dengan membaca artikel psikologi dan aku rasa dengan berkonsultasi dengan seorang psikiater aku bisa banyak memahami banyak tentang manusia.
Ternyata aku salah itu semua tidaklah menjawab sepersekian dari tumpukan pertanyaan-pertanyaanku.

Aku rasa dengan begitu banyak aku mengamati tingkah dan kebiasaan manusia aku dapat menangkap makna dari setiap tindakan mereka.
Ternyata aku salah.

Aku rasa dengan memiliki banyak teman dan menanyakan kepada meraka aku mendapat atas semua kepanikanku namun aku salah, merekapun sedang sibuk mencari jawaban mereka masing-masing.

Aku rasa dimensi dalam pikiranku dapat menjelajah jauh ke pikiran manusia itu namun sekali lagi aku salah, setelah malam ini tersadar aku hanya berada di teras pikirannya.

Aku rasa dengan banyak tau tentang manusia itu aku akan begitu mengenalnya.
Aku rasa dengan begitu banyak mendaraskan doa untuknya aku akan didekatkan kepadanya.
Aku rasa dengan begitu banyak memikirkannya aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan.
Sekali lagi aku salah, ya aku salah.

Dulu 6 tahun yang lalu aku pernah bertanya, menjerit kepada Tuhan, memohon dijawabkan atas pertanyaanku.
Kini setelah 6 tahun berlalu aku tau, aku mendapatkan jawaban itu.
Namun ketika sekarang aku kembali berada di sebuah pertanyaan, haruskah aku menunggu selama 6 tahun untuk mendapatkan dari sebuah jawaban?
 Entahlah, ketika aku enggan memikirkannya pun ia selalu datang menghantui mimpiku. 



Senin, 25 Juni 2012

Tolong aku

Ketika bagian tubuhmu merasakan ada yang tidak beres, kamu bisa menanyakan obatnya kepada dokter.
Ketika kamu tidak bisa membangun rumah, kamu bisa meminta kepada tukang.
Ketika kamu tidak bisa menemukan jalan pulang, kamu bisa memohon kepada sekitarmu.

Namun
Ketika kamu tidak bisa mengidentifikasi apa yang salah dengan perasaanmu, atau
memang tidak terjadi sesuatu di dalam hatimu. Kepada siapa aku harus bertanya?
Ketika diriku pun tidak bisa menyembunyikan isi perasaan ini, kepada siapa aku harus meminta?
Ketika diriku berjalan dalam kesepian dan merasakan ada bayang yang selalu mengikutiku, kepada siapa aku harus memohon?

Ketika semua terasa sudah terlambat. kepada siapakah aku harus memohon untuk memulainya lagi?

Tolong aku, sebagai manusia biasa tolonglah aku
Tolong aku, ini sungguh menyiksa
Tolong aku, katakan apa yang seharusnya dilakukan manusia ini?
Tolong aku!
Mengatur mimpi

Beberapa waktu ini mimpiku selalu diperankan oleh orang yang sama setiap malamnya.
Di sepanjang waktu luangku pun yang terlintas dan selalu melintas adalah pemeran itu-itu saja.
Ini bukan "lebay" atau bayangan semata, ini sungguh terlihat nyata.
Aku dulu pernah memikirkan seorang sepanjang hari, namun aku rasa itu tidak akan bisa membuatku mengatur mimpi dalam tidurku.
Aku pernah belajar tentang Precognitive Dream , namun aku masih belum mengerti sepenuhnya. Ok lah, nanti siang aku akan googling mempelajarinya.

Minggu, 24 Juni 2012

Dia
 
"Dalam bagian hidupku, Dia yang aku hindari 
adalah Dia yang aku harapkan. 
Entah berapa lama"

Yoannes Rio Pujatmiko

Sabtu, 23 Juni 2012

Romantis?

Dengan apa kalian akan menggambarkan "romantis"?
Membawakan sepuket bunga mawar lengkap? Atau
mengajak dia makan berdua ditemani cahaya lilin seperti kebanyakan orang?

Bukan, aku tidak menggambarkan "romantis" seperti itu. 
Semuanya tidak harus dinyatakan dengan bunga, semuanya tidak harus digambarkan dengan kebersamaan. 

Ketika dia jatuh sakit aku akan membuatkannya juice, juice buatanku dan aku akan membelanjakan buah-buah itu sendiri. Iya buah pilihan terbaik yang aku pilih sendiri di supermarket, aku berharap dengan  beriring doa buah itu dapat menjelma menjadi obat yang bisa segera menyembuhkannya.

Aku akan menahan kangenku dengan tidak menghubunginya, tidak menelpon ketika dia sibuk belajar menjelang ujian. Aku ingin dia konsentrasi belajar demi masa depannya.

Aku akan berbohong ketika dia menangis dan dia menanyakan "apa aku masih terlihat cantik?", aku akan menjawab "tidak, kamu jelek sekali".

Ketika kita masih belajar bersama, aku akan mulai menabung. Menabung seribu demi seribu untuk biaya kita pergi ke suatu negara jauh disana. Negara yang sama-sama kita impikan. Walaupun tabunganku baru akan terkumpul berpuluh-puluh tahun lagi. Walaupun kebersamaan kita berkesudahan sebelum semuanya terkumpul, namun aku ingin menabung demi impian kita.

Ketika dia nanti mulai bosan denganku, atau dia sudah menemukan orang terbaik disisinya aku hanya akan tersenyum dan berkata "semangat".




Tunggu 
 
Dengan putus asa, tak berdaya dan penuh rindu aku berseru, dan Tuhan menjawab aku dengan tenang, sabar dan lemah lembut. Aku mendesak dan meratap, agar ditunjukkan-Nya jalan keluar bagi nasibku... dan Tuhan dan Guruku hanya menjawab lembut, "Tunggu".

"Tunggu? Kau bilang lagi, Tunggu?" demikian aku marah membantah. "Tuhan, aku membutuhkan jawaban, aku ingin tahu mengapa!" Dimana uluran tanggan-Mu? Tak terdengarkah seruanku oleh-Mu? Dalam iman kubertanya, dan aku sedang menunggu kata-kata-Mu.

Tuhan, aku berada dalam kebingungan dan keraguan, toh Kau berkata kepadaku, "Tunggu?" Padahal kubutuhkan kata dari-Mu "Ya", agar aku boleh berjalan terus, atau bahkan kata "Tidak", agar aku harus berhenti dengan jalanku.

Tuhan tercinta, kata-Mu, bila kami percaya , kami hanya perlu meminta dan kami akan memperoleh. Tuhan, aku telah meminta, dan inilah jeritanku : aku sudah letih meminta! aku membutuhkan sebuah jawaban.
Toh Kaubiarkan aku terus menunggu, dan Kau sendiri selalu menjawab aku, "Tunggu".

Maka kujerembabkan diriku dikursi, aku jengkel dan kalah, Dan aku menggerutu pada-Mu, Tuhan, "Aku menunggu... untuk apa?"

Tiba-tiba kulihat Kau menunduk berlutut, mata-Mu bertatapan mataku dan lembut Kau berkata, "Kiranya Aku dapat memberimu sebuah tanda. Aku dapat menggoncangkan langit dan menggelapkan matahari. Aku dapat membangkitkan orang mati dan membuat gunung-gunung berlari.

Aku dapat memberikan apa saja yang kau minta dan menyenagkan kamu. Kamu akan memiliki apa yang kamu inginkan, tapi kamu takkan mengenal Aku. Kamu takkan mengenal kedalaman cinta-Ku yang akan kuberikan padamu. Kamu takkan mengetahui kekuatan yang Kuberikan pada kerapuhanmu.

Kamu takkan belajar melihat lewat awan-awan keputusasaan. Kamu takkan belajar percaya, bahwa aku ada dan mendampinggimu. Kamu takkan mengenal kedalaman karena boleh beristirahat dalam Aku, ketika hanya kegelapan dan kesenyapan yang meliputimu.

Kamu takkan mengalami kepenuhan cinta, ketika kedamaian roh-Ku turun laksana burung merpati. Kalau kamu memaksa jawabanku, kamu hanya mengenal Aku dalam kedangkalanMu, takkan pernah kamu takkan tahu kedalaman detak-detak hati-Ku.

Cahaya penghiburan-Ku menyusup di waktu malam, Kuberi kamu iman ketika kamu berjalan tanpa penglihatan. Kamu akan menerima kedalaman lebih daripada sekedar apa yang kau minta, yang lahir dari ketakterbatasan-Ku, yang membuat milikmu berlangsung selamanya.

Bila beban dan deritamu cepat berlalu, kamu takkan pernah tahu apa artinya kata "rahmat-Ku cukup bagimu". Impian-impanmu boleh saja menjadi kenyataan, tapi apa artinya itu, jika kau kehilangan semua yang seharusnya Kukerjakan padamu.

Maka, diamlah, anak-Ku, dan bila waktunya tiba, kamu akan melihat, bahwa anugerah terbersar bagimu adalah bila kau sungguh mengetahui-Ku. Maka meski sering jawabanku datang dengan amat terlambat, Aku akan tetap berpegang pada kata-kata-Ku terdahulu : "TUNGGU".

Diambil dari Majalah Utusan, Maaf saya lupa edisinya

Dulu seingkali aku meminta jawaban instan dari Tuhan atas apa yang aku tanyakan, sempat pula "menjerit" seperti diceritakan diatas. Namun ada maksud tersendiri dari "tunggu" yang telah Tuhan siapkan untukku. Kini dengan mau menunggu dan melihat Tuhan berkarya dengan rencanaNya, aku tidak hanya melihat cintaNya yang sungguh besar tetapi


P A T U N G
            
Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku.
    “Lihatlah orang bodoh itu,” katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.”
Kulihat  gadis disampingnya, menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran.
“Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa kepastian untuk kembali. Nanti engkau juga akan menjadi patung seperti dia.”
Gadis itu memandangku dengan takjub. Berbeda dengan pandangan neneknya yang penuh pelecehan.
“Tapi nek, bukankah itu berarti dia sangat setia?”
“Itu bukan setia namanya. Itu bodoh.”
“Katanya kalau kita mencintai seseorang, kita harus setia kepadanya.”
Nenek itu mengalihkan pandang dariku, menatap gadis itu dengan tajam.
“Cinta itu ada dua. Yang pertama cinta buta. Yang kedua cinta pakai Otak. Yang pertama biasanya membuat kita menderita. Yang kedua biasanya membuat kita selamat.”
Lantas nenek itu menuding kepadaku.
“Cinta orang bodoh itu termasuk cinta buta. Sudi amat dia menunggu kekasihnya ditempat ini sampai menjadi patung.”
Gadis itu masih menatapku dengan takjub.
“Tapi barangkali dia bahagia nek.”
Neneknya menjawab sambil melongos, dan melangkah pergi.
“Aku tidak tahu, apakah orang yang menunggu selama dua ratus tahun masih bisa bahagia. Apalagi sampai jadi patung.”
Aku melihat mereka pergi menjauh. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka. Tapi aku memang sudah menjadi patung. Seluruh tubuhku mulai dari ujung jari kaki sampai ujung rambutku telah menjadi batu. segenap urat syaraf, darah, kulit, usus, jantung dan paru-paru, apapun dari tubuhku telah menjadi batu, sehingga akupun menjadi patung. Aku tinggal pikiranku. Menatap ke satu arah tanpa bisa menoleh.
Di arah itulah, di mana selama duaratus tahun aku menatap matahari turun perlahan-perlahan ke balik gunung, aku menunggu dia muncul seperti yang dia janjikan duaratus tahun yang lalu.

“Kamu mau kemana, sayang?”
“Tunggulah disini, aku pergi cuma sebentar.”
“Ke mana?”
“sebentar.”
“Mau ngapain?”
“Aku pergi cuma sebentar, tunggulah disini, aku segera kembali setelah iblis itu mati.”
“Jadi dikau akan pergi memburu iblis, sayang?”
“Ya, aku harus membunuhnya, setelah itu aku baru bisa pacaran dengan tenang. apakah kamu akan menunggu aku sayang?”
Aku tidak menjawab, namun dia tahu aku akan menunggunya sampai mati. Aku terus menerus berdiri di tempat ini menunggu senja tiba seperti dijanjikannya.
“Aku tidak akan terlalu lama, aku akan muncul di ujung jalan itu ketika senja. Aku akan muncul ketika matahari yang jingga dan membara turun di antara dua gunung itu. Dikau akan melihatku sebagai siluet. Muncul sebagai bayang-bayang hitam berambut panjang yang berlari menujumu. Tunggulah aku disini, di luar desa ini, aku akan muncul di ujung jalan itu menenteng kepala iblis sebagai hadiah untuk perkawinan kita.”
Dia memang tahu segalanya. Hampir tiada hal yang tiada diketahuinya seperti dia tahu bahwa iblis sebetulnya tidak pernah mati. Pada saat itu pun aku tahu betapa aku akan terus menerus menunggui kedatanganya sampai mati. Namun barangkali inilah yang tidak pernah diketahuinya: ternyata aku tidak mati-mati. Aku terus menerus menunggu dari senja ke senja sampai dua ratus tahun sampai lama-lama menjadi patung. aku terus menerus menanti dan mengharapkannya, siapa tahu dia muncul dari ujung jalan setapak itu sebagai siluet wanita berambut panjang yang menenteng kepala iblis.
Orang-orang desa yang lewat menuju ke sawah dengan santun selalu bertanya.
“Janjian nih?”
“Iya mang.”
“Ke mana sih dia?”
“Pergi sebentar mau membunuh iblis.”
“Aduh jang, Iblis mah kagak bisa dibunuh.”
“Biarinlah mang, sudah maunya begitu.”
“Jadi mau menunggu terus nih?”
“Iya mang, namanya juga pacar.”

“Bagus Jang, tunggu saja, namanya juga pacar, katanya kapan kembali?”
“Katanya sih setelah senja tiba.”
“Senja kapan?”
“Senja setelah iblis itu dibunuh.”
Orang-orang desa dengan santun menyimpan ketawanya sampai di kejauhan, meskipun aku selalu bisa mendengarnya. Lama-lama aku terbiasa. Dan lama-lama orang-orang desa pun tidak bertanya-tanya lagi. Semua orang tahu kenapa aku berdiri di pertigaan itu, menatap terus menerus ke arah cakarawala dimana matahari senja selalu tenggelam di utara dua gunung itu, seperti lukisan anak-anak sekolah dasar.
“Kenapa orang itu?”
“Oh, dia orang yang sedang menunggu kekasihnya.”
“Memangnya kemana kekasihnya itu?”
“katanya pergi untuk membunuh iblis.”
“Jadi dia menunggu kekasihnya?”
“Iya.”
“Dan kekasihnya itu baru akan pulang setelah membunuh iblis?”
“Iya.”
“Kasihan,”
“Kok kasihan?”
“Barangkali kekasihnya sudah kawin sama orang lain.”

***

Aku terus menerus berada di sana, di pertigaan di luar desa menghadap sawah membentang seperti permadani. Kemudian tumbuh pohon beringin di pertigaan itu. Akarnya membelit-belit badanku. Aku tidak bisa berkutik karena telah menjadi patung. Tiada yang bisa kulakukan selain menunggu. Hidup tidak memberiku banyak pilihan selain mencintai dia. Aku akan terus menerus menunggu dari senja ke senja. Lagi pula aku sungguh menyukai langit senja, membayangkan dia akan muncul dari balik cakarawala di latar belakangi langit ungu dengan mega-mega yang terpencar dalam semburat cahaya jingga yang membakar.

Sudah dua ratus tahun aku menatap ke barat, sudah dua ratus tahun aku menatap senja demi senja yang gemilang dengan permainan warna dan cahaya. Menatap senja bagaikan menatap dirinya. Kubayangkan di balik cakrawala itu ia bertempur melawan iblis yang tidak akan pernah mati. Dengan pedang samurainya yang berkilat ia bagaikan menari-nari di tengah api jelmaan iblis yang berusaha membakar dan menghanguskannya. Segala hal bisa kubayangkan tentang apa saja yang mungkin terjadi dibalik cakrawala itu. Kenapa tidak? Semenjak menjadi patung, aku tinggal pikiran. Seluruh tubuhku membatu sehingga aku tidak bisa bergerak kemana-mana. Akar-akar pohon melilit tubuhku tanpa aku bisa berkutik. Pohon beringin tumbuh menjadi besar sehingga membuat tempatku berdiri mematung itu rindang. Banyak orang suka berteduh disini, menghindar dari terik panas matahari. Mereka menambatkan kuda atau kerbaunya ke tubuhku, lantas tidur di bawah pohon beringin. Mereka akan bangun setelah senja tiba.
“Hei lihat, patung itu menatap senja.”
“Ya, Kata orang-orang tua desa ini, patung itu dulunya orang betulan.”
“Orang betulan?”
“Ya, Orang betulan yang berdiri disitu, menunggu kekasihnya yang pergi untuk membunuh iblis.”
“Membunuh Iblis?”
“Iya.”
“Sedangkan sampai sekarang pun iblis tidak mati-mati.”
“Lha iya, konyol betul orang itu. Barangkali kekasihnya itupun sudah mati sekarang. Lha wong iblis masih berkeliaran.”
“Ya, begitulah, tapi orang ini pokoknya menunggu.”
“Orang itu patung ini?”
“Iya, patung ini”
“Jangan-jangan dia mendengar kita.”
Aku memang mendengarnya. Aku mendengar segalanya tumbuh. aku mendengar burung berkicau diatas kepalaku. Aku mendengar desis ular merayap diantara akar-akar yang mebelit kakiku. Aku mendengar desaku tumbuh menjadi kota, sawah-sawah berubah menjadi pasar. Dan di belakang pasar itu tumbuh gedung-gedung yang megah. Matahari senja yang turun selalu terjepit diantara gedung-gedung bertingkat itu. Jalanan setapak di depanku kini beraspal, dan diujungnya bersambung dengan jalan tol. Hanya tinggal aku dan pohon beringin yang masih tertinggal dari masa lalu. Muncul jalan kereta api entah darimana, dan dibelakang punggungku nampaknya dibangun stasiun. Aku hanya mengira-ngira karena aku tidak bisa menoleh. Tapi kulihat orang-orang menggendong ransel, menyeret kopor dan berjalan tergesa-gesa karena takut terlambat. Dunia telah menjadi tempat yang sangat riuh. Aku terus menerus menatap kedepan menunggu seorang wanita yang indah muncul pada suatu senja sambil menenteng kepala iblis. Kemudian para petugas dari kotapraja membuat pagar disekeliling pohon beringin itu. Mereka menancapkan sebuah papan didekat pagar bertuliskan keterangan tentang diriku. Di dalam stasiun, kios-kios koran dan majalah juga menjual buku kecil yang menceritakan riwayat hidupku. Sambil menunggu kereta api orang-orang suka melewatkan waktu memandangku. Mereka mengeja keterangan dipapan itu, atau membaca buku kecil yang dijual murah itu sambil menatap diriku. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang mengangkat bahu, ada yang bibirnya mencibir. Banyak juga yang senang berfoto-foto dengan latar belakang aku. Pasangan-pasangan berpelukan didepanku, minta tolong kepada orang-orang yang lewat supaya dipotret. Rombongan turis juga suka bergerombol, berfoto bersama didepanku sambil tertawa-tawa. Pemandu mereka biasa berteriak-teriak lewat corong pengeras suara.
“Inilah patung Lelaki Yang Menunggu Kekasihnya. Patung ini tidak dipahat oleh siapapun karena dia berasal dari manusia yang hidup. Duaratus tahun yang lalu ia berpisah ditempat ini dari kekasihnya, yang pergi untuk …”

***

Suatu ketika kulihat gadis manis yang datang bersama neneknya itu, tapi kali ini ia datang bersama seorang lelaki yang nampaknya juga akan berpergian naik kereta api.
“Lihatlah patung ini, ” ujar lelaki itu, “Dia orang yang menunggu kekasihnya sampai jadi patung.”
“Aku tahu,” kata gadis itu, “nenekku yang cerita.”
“Kamu bisa seperti dia?”
“Maksudmu?”
“Bisa menunggu aku sampai aku kembali?”
“Aku selalu setia padamu, kapan kamu kembali?”
“Kalau tugasku sudah selesai.”
“Apa tugasmu?”
“Membunuh Iblis.”
“Tapi iblis tidak pernah mati!”
“Aku tidak peduli. Harus selalu ada orang yang membunuh iblis, meskipun iblis tidak akan pernah mati.”
Terdengar peluit kereta api. Mereka berpelukan dan berciuman. Lantas lelaki itu memasuki stasiun. Kulihat gadis itu melambai-lambaikan tangan.
Esoknya dia datang lagi. Duduk dibangku yang ada dihadapanku sambil meberi makan burung-burung dara. Sebentar-sebentar dia melihat jam tangannya.
Aku tahu, dia akan terus menunggu di bangku itu, sampai jadi patung.



Jakarta, 23 januari 1999

Iblis Tidak Pernah Mati | Patung | Halaman 159-171
Seno Gumira Ajidarma

Sebenarnya banyak dijumpai pula "patung-patung" disekitar kita. Patung yang dimaksud adalah orang yang mengesampingkan rasionalitas karena terlalu dimabukkan oleh apa yang dilihatnya baik. Tetapi apa yang dianggapnya baik, belum tentu sepenuhnya baik. Karena baik yang sesungguhnya hanya bisa dilihat dengan pikiran yang terbebaskan, yang tidak dilabeli.

Jumat, 22 Juni 2012

Draft Email


Draft email ini dari 3th yang lalu hingga sekarang tidak akan pernah terkirim, karena memang dari sejak awal aku menulis aku hanya berniat menyimpannya. 

"Manusia kadang takut ketika dihadapkan dengan hal yang diluar batas kuasa manusia, saat itu manusia tidak bisa berbuat dengan apapun. Mau berbuat apa kita dengan keterbatasan itu? Hanya memohon."


Dan sekarang aku tak lagi takut dengan keterbatasan, karena diketerbatasan ini aku pun tak tau apa yang harus aku mohon. Semuanya begitu bias.

Tidakkah permainan nasib memang seperti permainan kartu-kartu itu? Kemungkinan satu bertemu kemungkinan lain menjadi kemungkinan yang baru, tapi kita tidak pernah bisa memastikan kemungkinan-kemungkinan itu yang pasti hanyalah kemungkinan itu sendiri.

Biola Tak Berdawai | Halaman 20
Seno Gumira Ajidarma 


Ternyata sudah pagi, banyak yang harus dilakukan nanti. 
Selamat beristirahat, selamat menyambut 
kemungkinan-kemungkinan yang akan segera kita ketahui.
Aku benar-benar lupa
 
Ahhhh, kenapa aku tiba-tiba teringat mawar putih? Sudah bulan 6 ya?
Dan ternyata di tahun ini aku belum membeli mawar putih seperti biasanya,
iya mawar putih di kios bunga Kota Baru.
Tiada Kata Berpisah - Rio Febrian

Cinta kini kau pergi
Sebelum dia mencintai aku
Begitu cepatnya dia berlalu
Meninggalkan semua
Hanya untuknya

Reff: tiada kata berpisah
bila harus berakhir segalanya
untuk kita dan untuk masa bahagia bersamamu
Katakan padanya
Selamanya dialah kekasihku
Yakinkan untukmu
Dia milikku sampai kapan jua
Hanya untuknya

Repeat reff
Cinta kini kau pergi
Sebelum dia mencintai aku
Hanya untuknya
Repeat reff

Sial lagu ini lagi, lagu yang selalu menarik untuk diulang setiap harinya.
Ya didalam hidupnya manusia tidak sesimpel mata uang yang mempunyai probabilitas setengah setengah.
Ya dan tidak, manusia tidak sesimpel itu. Dari buku yang pernah aku baca sih, katanya  manusia terbentuk atas eksistensi dan esensi. Eksistensi adalah keberadaan manusia itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Lalu esensi adalah arti hidup manusia,ada didalamnya tujuan dan proses hidupnya. Jadi intinya eksistensi itu kesepakatan, sedangkan esensi adalah masalah.  

Kecantikan adalah esensi, namun jangan membayangkan kecantikan disini sebagai manis, cantik fisik dsb. Karena manis dan cantik fisik itu adalah eksistensi dari kecantikan. (saya lebih senang mengambil pengandaian cantik karena saya pria normal, maafkan ya) Manis dan cantik fisik lebih tepat disebut kesepakatan. Memiliki kecantikan adalah esensi. Semua cantik, namun tidak semua mempunyai eksistensi. 

Lalu pertanyaannya : seperti lagu diatas ketika kamu tidak mendapatkan apa yang dulu pernah kamu inginkan, dimana letak esensinya? Apakah kamu tidak mendapatkan apa-apa dari semuanya? Apakah ikut hilang bersama eksistensinya? Sayang jika anda tidak bisa mengambil esensi dari setiap cerita.
 


Kamis, 21 Juni 2012

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.
Kepada Cinta 
[25 pemenang sayembara menulis surat cinta]
| Raditya Dika 
Halaman 151-154
Banyak orang punya sesuatu untuk diungkapkan dari benaknya,
namun tidak banyak orang yang bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Terima kasih Raditya Dika engkau sudah mewakili banyak orang dengan kata-katamu.
Iya banyak orang, termasuk aku?
Hahhhh sudah, lupakanlah...
Saya tau,
ya saya tau.
hanya saja saya pura-pura tidak tau.

Rabu, 20 Juni 2012

Korupsikah aku?

Ada peribahasa kuman di seberang pulau kelihatan, pesawat Air Bus di pelupuk mata tak nampak.
Mungkin itu peribahasa yang tepat untuk mencitrakan kita dan masyarakat, bagaimana tidak melihat kesalahan orang memang mudah namun mengoreksi kesalahan pribadi susahnya minta ampun.
Banyak orang bersua anti korupsi, si ini korupsi, si itu korupsi padahal dia belum bertanya pada dirinya sendiri "korupsikah aku?"
Korupsi sendiri janganlah selalu diartikan penyelewengan uang, korupsi sendiri bisa berarti luas. Misalnya saat anda berkendara lalu anda menyerobot traffic light, bukankah anda disitu sudah mengambil kesempatan pengendara jalur lain untuk menikmati haknya untuk terus berjalan? Disaat anda membuang sampah sembarangan, sadarkah anda bahwa anda sudah mengambil hak orang lain untuk menikmati lingkungan yang bebas sampah? lalu sewaktu anda bekerja dan pulang sebelum jam yang sudah ditentukan, bukankah itu anda juga sedang korupsi waktu? Masih banyak contoh-contoh kecil korupsi dalam keseharian kita, jadi sebelum anda berkata atau menuduh orang lain korupsi coba tanyakan terlebih dahulu kepada diri anda sendiri "korupsikah aku?"

Apa artinya?

Subuh ini masih berkutat dengan ringkasan Interaksi Manusia dan Komputer, disela meringkas tiba-tiba playlist di laptop memutar lagu Bali dari Dewa Budjana berjudul Mantramku. Lagunya enak didenger sih, tapi kalau disuruh artiin wahhh kemampuan Bahasa Baliku masih jauh dari cukup.
Banyak lagu dari banyak bahasa pula yang kadang gak langsung aku tau artinya tapi enak dinikmati,
sama kaya cerita Tanteku dan pembantunya di Bandung.
Di satu kesempatan, Tanteku dan pembantunya bepergian melewati jalan Tol di Bandung. Di siang itu tanteku play CD lagu barat, dijalan yang lurus dan dengan kecepatan tinggi, pembantu Tanteku berkata "Dok, lagunya enak ya jalananya juga lurus, Bibik berasa disurga".
Pembantu Tanteku bukan orang yang bisa atau mengerti Bahasa Inggris tetapi dilihat dari cara pengucapannya tersebut dia seakan menikmati sekali lagu tersebut.
Pekerjaan seorang penyanyi dituntut harus bisa menanamkan penghayatan bernyanyinya ke dalam lagu yang dibawakan agar jiwanya bisa menyampaikan pesan kepada para pendengar, meski orang yang mendengar tersebut tidaklah selalu mengerti bahasanya. Seperti bahasa bayi kepada ibunya, jika jiwa dua orang mulai menyatu bahasa hanyalah perantara.

--aissss maafkan saya, saya sudah agak mengantuk

Selasa, 19 Juni 2012

Sepotong Senja Untuk Pacarku
Mungkin dalam ratusan cerpen Seno Gumira Ajidarma, aku adalah Sukab dengan cerita "Sepotong Senja Untuk Pacarku". Sukab yang berdiri di bibir pantai memandang senja, burung-burung, pasir yang basah dan siluet batu karang. Sukab yang memotong senja dan Sukab yang ingin mengirimkan sepotong senja itu untuk pacarnya, Alina. 

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.”*1

 Ya, aku memang seperti  Sukab, Sukab yang sangat mencintai Alina. Sukab yang mengemudi  mobil Porsche abu-abu meluncur melewati tol, berkejaran dengan Polisi yang terus mengejar karena ketahuan mencuri senja.

“Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapapun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.”*2

 Seperti Sukab yang begitu keras mempertahankan sepotong senja untuk pacarnya, akupun ingin seperti itu mempertahankan apa yang menurutku memang indah lalu mengirimkannya melalui pos. 

Tapi diriku memanglah Sukab, Sukab yang begitu bodoh seperti dalam cerita “Jawaban Alina”.

“Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,”*3

“Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin,  beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus kukatakan sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu.”*4

Sukab yang merasa selama ini Alina begitu mencintainya, tapi ternyata tidak.
 
“Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak Himalaya.”*5

“Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan kulipat menjadi perahu kertas, dan kulayarkan ke laut lepas.  Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu . Kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta—betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu. Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.”*6

Melalui sepotong senja yang kukira sudah terkirimkan sepuluh tahun yang lalu selama itu pula aku menunggumu. Seperti tulisanku dalam blog ini entah apakah nasib waktu akan menjodohkan kamu untuk membacanya. Dan aku tidak akan pernah tau juga balasanmu yang kau tulis dan kau lipat menjadi perahu kertas akan aku baca suatu saat nanti. 

*1 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 6
*2 Sepotong Senja Untuk Pacarku - Halaman 13
*3 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 183
*4 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 185
*5 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 188
*6 Jawaban Alina - Halaman - Halaman 190

Untuk membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma :
 "Sepotong Senja Untuk Pacarku"
 http://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
"Jawaban Alina" 
http://duniasukab.com/2007/06/11/jawaban-alina/