Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapaiPotongan lirik tersebut dibawakan apik oleh Marcell - Peri Cintaku.
Huuuuuu
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Pernahkah kalian berpikir "kenapa aku dilahirkan dikeluarga ini" "kenapa aku memeluk agama ini" "kenapa begini dan kenapa begitu". Tulisan ini tidak untuk memperdebatkan, menyesali apa yang Tuhan berikan kepada kita tetapi hanya untuk bahan perenungan. Lama aku berpikir mencari satu persatu jawaban dari pertanyaan diatas. Semisal ketika aku berkenalan dengan lawan jenis, ketika aku mengetahui dia berbeda keyakinan denganku semacam ada pembatasan (dalam hati) tak kasat mata untuk hanya bisa sekedar berteman tidak lebih. Walaupun setiap perkenalan dengan orang baru tidak lantas semuanya berujung ke hubungan yang serius ya (pacaran). Atau tertanam dari pesan banyak orang tua kepada anaknya untuk mencari pasangan hidup seiman. Tulisan ini tidak mencoba memperdebatkan teologis, apakah pernikahan (pacaran) beda agama diperbolehkan ataukah tidak, melainkan sekadar merenungkan masalah yang muncul dari pasangan yang berbeda agama. Banyak cerita diantara teman-temanku yang mulai mempertanyakan pernikahan beda agama ini, karena hubungan mereka dengan pasangan beda agama mereka yang mulai serius. Saking penasarannya aku dengan pertanyaan tersebut, aku meluangkan waktu untuk mencari buku tentang pernikahan beda agama dan akhirnya aku menemukan buku di perpustakaan UAJY "Halangan-halangan nikah menurut Gereja Katolik" karangan Dr. Alf. Catur Raharso Pr, lalu sebuah tulisan bersumber dari www.e-psikologi.com berjudul "Pernikahan beda agama " pelengkapnya aku membaca di Gramedia buku tulisan Ahmad Nurcholish "menjawab 101 masalah nikah beda agama". Dari beberapa sumber yang saya pelajari tersebut sebenarnya setiap agama tidak menyarankan perkawinan beda agama, (menurut pandangan Katolik) karena Mengingat relevansi iman terhadap perkawinan sakramental dan pengaruh sakramen perkawinan bagi kehidupan iman itulah Gereja Katolik menginginkan agar anggoranya tidak melakukan perkawinan campur. Disamping itu perlu diindahkan, yakni bahwa setiap orang dilarang melakukan sesuatu yang membahayakan imannya. Iman adalah suatu nilai yang amat tinggi, yang perlu dilindungi dengan cinta dan bakti. Namun pihak gereja juga ingin bersikap realistis. Ia mengakui setiap orang memiliki hak untuk bebas menentukan status hidupnya, entah hidup menikah atau tidak menikah (selibat) Kanonik.219. Dan kalau seseorang memilih untuk menikah, ia bebas menentukan jodohnya sendiri, sekalipun berbeda iman atau agama. Sepengetahuan saya sekarang ini di Indonesia sendiri kantor pencatatan sipil tidak akan mencatatkan pernikahan beda iman. Mereka hanya akan mencatatkan pernikahan satu iman, masalah sah atau tidak negara menyerahkan kepada tiap-tiap agama. UU RI No 1 Tahun 1974 Bab1 Pasal 2 ayat 1 menyebutkan "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu." Idolaku Rio Febrian pun mengalami masalah serupa, RF memeluk Kristen dan istrinya Sabina Kono memeluk agama Islam mereka terpaksa melangsungkan pernikahan di Bangkok. Ini juga bukan sekedar sahnya suatu hubungan, tetapi bagaimana ikatan diantara kedua jiwa, kedua iman ini dapat terjadi. Aku penasaran sekali dengan pernikahan beda agama ini karena sering pula aku menjalin hubungan dengan orang beda agama. Pasangan yang memulai hubungan beda keyakinan banyak beranggapan masalah mereka tentang keyakinan akan terselesaikan dengan seiringnya waktu, sebenarnya itu tidaklah benar. Cinta yang menggebu diawal pasti ada titik terendahnya juga, disitu (jika sudah memasuki pernikahan) akan terasa problemanya. Sebelum memutuskan menikah beda agama kedua pihak haruslah mempunyai batasan yang jelas tentang hubungan mereka kedepan. Pernah ga kalian mencintai seseorang, tetapi setelah menyadari kalian berbeda keyakinan kalian menjerit dalam hati bertanya kenapa ini? Nyesek ga sih? Cinta memang tidak bisa memilih, namun agama juga tidak bisa dipersalahkan juga ini untuk kebaikan bersama.
Sempat aku berbicang pula dengan seorang Psikiater, setelah lama kita berbincang akhirnya kita menyimpulkan bahwa titik terberat pernikahan beda agama itu bukan saja ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai (berbeda agama tersebut) namun bagaimana kita menikahkan kedua keluarga kita (keluarga pria dan keluarga wanita). Karena hubungan kita tidaklah mulus jika didalam keluarga saling bertentangan. Banyak sekali problema kehidupan, karena untuk itulah manusia diciptakan, untuk menjalaninya. Kita tidak pernah bisa memilih kehendak Tuhan, kapan kita dilahirkan, dimana, dari keluarga mana, memeluk keyakinan apa, jatuh cinta dengan siapa (seiman atau tidak) marilah kita syukuri apa yang kita terima dan tetap menjalani hidup ini dengan masalah-masalahnya.
Aku tidak akan membatasi cintakku kepada siapapun.. Kita sama sama manusia kenapa kita tidak membebaskan untuk mencintai siapapun sekalipun harus berbeda status, agama, budaya, suku dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar