Minggu, 09 September 2012

Nokturnal dan ke enam anaknya




Rio Febrian - Tiada Kata Berpisah (Ganaskustik 98.7 GenFM)


Walaupun kemaren kelewat live streaming gara-gara kesalahan teknis, akhirnya nemu juga video RF. Asekkk, menyusuri kenangan bareng lagu ini.

Kamis, 30 Agustus 2012

Ketika saya berada di tengah padatnya sebuah kota besar, dengan ketersediaan, kecanggihan dan keberlimpahan segala sesuatu pastilah ada orang-orang besar dibalik itu. Ketika menyadari usia saya yang akan selalu berjalan dan ketika saya dituntut untuk menentukan arah pencarian saya saya bertanya apa yang sebenarnya diperlukan manusia kekayaan kah, jabatan, ilmu atau apa? karena jika akhirnya manusia berakhir di satu titik pencapaian yang sama menggapa kita harus menjadi yang terhebat, terkaya, terpandai? Suatu saat manusia yang hidup pastilah meninggal juga. Lalu apa yang benar-benar saya akan capai?

Selasa, 28 Agustus 2012

Tidak sempat atau pura-pura sibuk?

Masuk kamar, rebahan sambil memandang rak buku yang masih menyisakan banyak buku untuk dibaca. Ketika berburu buku aku bisa gila-gilaan untuk "mendapatkannya"  namun setelah itu terkadang aku tidak sesegera mungkin menyelesaikan membacanya. Alhasil sekarang banyak judul buku yang belum tersentuh, bahkan belum dibuka dari segelnya. Apakah *semua yang aku kejar itu benar-benar aku inginkan atau hanya kesenangan semata? Yaaaa *buku sabar ya...

Senin, 27 Agustus 2012

Hidup itu pilihan,
pilihan untuk memikirkan atau pilihan untuk mengabaikan.

Selasa, 07 Agustus 2012

Aku bilang bulan Agustus ini adalah bulan kebebasan,
ya bulan dimana aku bebas dari kedua kemelekatan yang membuat aku agak terpatok
disana sini karena harus mengingat sesuatu yang seharusnya memang tidak perlu aku ingat atau
tidak perlu aku pikirkan.


Yeahhhhh aku bebas!!

Jumat, 20 Juli 2012

Tuhan itu Adil


Ada orang pernah berkata kepadaku, setiap orang yang mengenal baik dirinya sendiri akan mematokkan standart minimal pasangannya kelak sesuai pribadinya. Sejak saat itu aku mulai mematok standart kriteria lawan jenis untuk dijadikan pasangan. Lama aku mencari kesempurnaan yang dimiliki seorang lawan jenis, hingga di satu malam aku tersentak serasa Tuhan mengetuk aku melalui sebuah tulisan yang lama aku simpan.
--------------------------------------------------------------------
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"


Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang.

Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

J I K A........
Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang....
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat.....

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu.......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang......
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya.....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.....
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya.....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.

Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.....

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.

Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.

Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
kamu akan menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.

Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang lain kamu juga akan menyesal.

---------------------------------------------------------------------------------

Dari tulisan ini aku akan berfikir ulang, adilkah Tuhan jika akhirnya kita dipersatukan? Anda muda, pintar, aktif dan selalu optimis. Dan aku, tidak sepenuhnya seperti  anda. Sekali lagi kehidupanku berterima kasih kepada anda, dimana sekarang  aku  bisa begitu menyadari dan memaknai tulisan diatas jauh sebelum  aku  benar-benar menemukan pasangan yang benar tepat nantinya. Rencana Tuhan memang tidaklah mudah dimengerti, seandainya beberapa tahun yang lalu  aku  tidak melihat anda, mungkin lain ceritanya sekarang. Terima kasih.



Selasa, 17 Juli 2012


"A CHILD CALL IT".

Ada 2 tulisan di 2 halaman yang berurutan yang membuat aku berfikir beberapa kali :

"Aku merasa sangat beruntung. Masa laluku yang hitam sudah kutinggalkan. Seburuk apapun masa laluku itu, aku jadi tahu bahwa hidupku sepenuhnya terserah padaku." hlm 146.  Intinya hidup ini adalah hidup kita, jadikan kita pemimpin dari hidup kita sendiri, bukan orang lain yang memimpin hidup kita, siapapun itu! Aku Benar-benar beruntung!

"Anugerah yang kuterima termasuk pertemuanku dengan begitu banyak orang yang memiliki pengaruh positif terhadap hidupku. Begitu banyak wajah yang mendorong aku, mengajari aku untuk membuat pilihan-pilihan yang benar, serta membantu aku dalam usahaku mengejar keberhasilan." hlm 147. Perjumpaan dengan satu atau beberapa orang dan dengan pribadi serta pikiran yang berbeda akan membentuk kita menjadi manusia yang lebih Plural.

-Aku Bebas-

Rabu, 11 Juli 2012

Saya kangen orang ini...




Corat-coret di kertas

Ubah ke bentuk vektor dan pewarnaan

Selesai, Saya kangen orang ini...



Sabtu, 07 Juli 2012

...


Pagi ini ketika dihadapkan pada sebuah kenyataan yang baru saja aku ketahui,
dimana aku tidak bisa menghentikan cepat atau lambat sebuah perpisahan yang terjadi
dan memang perpisahan itu tidak perlu dihentikan.


***
Menunggu dia yang entah berada di mana dan sedang apa.Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya.Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Kita ketemu hanya lima menit dan menunggu selama 95 menit maka itu berarti pertemuan berlangsung 100 menit. Perpisahan pun sering tidak berarti apa-apa seperti tidak ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi saling mengenang ketika berpisah. Perpisahan yang sebenarnya akan terjadi ketika kita tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya. Juga jika seseorang sudah mati, selama kita masih mengingat dan mengenangnya berarti tiada perpisahan sama sekali.

Linguae Halaman 58 - Seno Gumira Ajidarma

Pernahkah kalian mengalami perpisahan sebelum perjumpaan? Semoga tidak...

Kamis, 05 Juli 2012

Maybe I am OTD (over-thinking disorder).

Kata diatas memang tidaklah berlebihan, saya adalah tipe orang yang berusaha selalu / terlalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan mungkin itu pula yang membuat saya terlalu banyak menimbang-nimbang apa yang akan saya lakukan. Semisal saya esok hendak bepergian ke tempat wisata yang belum pernah saya kunjungi, maka jauh hari saya sudah memikirkan dan membayangkan tempat yang akan saya datangi, mempersiapkan apa yang harus saya bawa, mencari data di internet mulai dari lokasi geografi, jarak tempuh, suhu, oleh-oleh khas, tradisi , apa yang akan dilakukan, apa rencana cadangan dan sebangsanya lalu mencatat dan menyusunnya di buku hitam saya. 


Memikirkan apa yang belum terjadi sebenarnya mempunyai imaji tersendiri, disatu sisi memikirkan apa yang akan diperbuat memanglah baik karena saya bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, namun terlalu linier dengan cara berpikir tentunya tidak baik pula. Memikirkan pribadi sendiri saja terkadang kita masih harus berusaha lagi, apalagi mempelajari  orang lain (sifat / karakter / kebiasaan). Namun manusia sebagai makhluk sosial tentunya dituntut untuk bersosialisasi karena sebagai manusia kita tidak mungkin hidup sendiri. Sekecil apapun bentuknya setiap manusia pasti pernah mempelajari orang sekitarnya, semisal ada dua anak kecil ana dan andi, ana adalah anak yang selalu ditipu oleh andi, lama kelamaan ani akan menanamkan dalam pikirannya sikap kehati-hatian kepada andi agar tidak ditipu lagi, hal itu berarti ana sudah bisa mempelajari kebiasaan andi. 
Permasalah yang dihadapi manusia dewasa tentunya lebih kompleks dan tidak semudah permasalahan yang dihadapi anak kecil. Memikirkan hubungan antar individu, dengan teman, orang tua, gebetan atau pacar mempunyai keunikan tersendiri, dan saya terkadang suka melakukannya. Dalam artian ketika saya memikirkan apa yang menjadi pertanyaan dalam benak saya dan menemukan titik terang pastinya saya senang, namun lain halnya ketika pertanyaan tentang hubungan antar individu tersebut muncul dan tidak mendapat jawaban dan akhirnya berada di suatu titik buntu. 


Saya mempunyai banyak teman  yang begitu dekat, begitu akrab bahkan seperti ketan. Saya suka hal baru, orang baru, saya bisa dekat dengan orang baru bahkan begitu dekat hanya dalam waktu yang singkat, namun tidak sedikit juga yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan ada juga yang malahan semakin menjauh. Teman saya menanyakan satu pertanyaan ini setelah bertandang ke rumah saya "Yo, aku kemaren liat adikmu dirumah diem banget trus dia kalo diluar gimana? apa kaya kamu kalem kalo belum kenal tapi rame orangnya kalo uda akrab gitu?" saya memang orang yang rame dalam artian ga bisa diem jika berada dihabitat nyamanya (dengan orang-orang yang sudah dirasa akrab / nyaman). Saya terlebih dahulu akan berusaha mempelajari / terlalu mempelajari orang yang saya belum kenal, mempelajari disini dalam arti bisa menanyakan langsung kepada orang tersebut,  orang terdekatnya atau mempelajari dari aktifitasnya di jejaring sosial  (beda dengan KEPO ya) dilihat bagaimana cara berbahasanya, tingkah lakunya, foto-fotonya walaupun jejaring sosial itu tidak 100% menjadi jaminan mencitrakan si pemilik akun . Saya rasa ini perlu dilakukan karena tidak semua orang bisa menerima cara saya bersosialisasi seperti antara saya dan teman-teman saya, berarti setelah saya mempelajari orang baru dalam hidup saya, saya akan mengklasifikasikan apakah dia bisa masuk kedalam model pertemanan saya seperti biasa atau dia mendapat pengecualian (kan ada tipe orang yang mudah tersinggung) saya harus berhati-hati. Dalam setiap hubungan saya berusaha mereka tetap nyaman dengan kondisi itu namun tidak juga menyingung perasaan. Saya mungkin termasuk orang dengan daya imajinasi yang cukup tinggi, semisal ketika saya melihat satu foto atau mendengar cerita tentang seseorang (apalagi orang yang saya sayang) saya bisa membayangkan bagaimana perasaan orang dalam foto cukup melihat dari ekspresi, seolah foto tersebut bercerita banyak, namanya juga imaji walaupun ga sepenuhnya benar tapi cukup kok mengisi otak saya. Lebih ekstrim lagi saya akan berusaha mencari informasi dimana, kapan, dengan siapa orang dalam foto / cerita tersebut dan saya akan mereka ulang kejadian dengan datang di tempat orang dalam foto / cerita itu diambil / diceritakan diam disitu berjam-jam dan berusaha kembali ke waktu lampau sama seperti orang itu berada dulu. Semisal orang dalam foto / cerita tersebut adalah seorang wanita yang aku suka dan dia adadisitu bersama pacarnya dulu, aku memikirkan bukan bagaimana kelak kita bersama (jika memang jodohku). Disini aku memikirkan ternyata waktu sudah terlewat, dulu kamu pernah bahagia dengan seseorang dan dulu aku juga punya kisahku sendiri sebagai manusia kita tidak bisa pulang kembali ke waktu itu dan menghapusnya, menghapus? untuk apa menghapus kenangan? Kenangan memang harus terjadi, apapun yang dituliskan kenangan itu. Dan apabila selanjutnya kita memang tidak berjodoh aku akan memikirkan foto / cerita tersebut sebagai kisah terindahmu, walaupun dia sebagai pelaku tidak menilainya lagi seperti itu.


Mungkin juga karena saya terbiasa mempelajari orang disekitar dan merekam apa yang biasanya akan dilakukan menjadikan saya tempat sampah curhatan. Memberikan saran walaupun tidak sepenuhnya benar tapi setidaknya menjadi pendengar yang baik dan tidak menceritakan kepada publik masalah mereka sudahlah cukup. Ya itulah manusia, melihat, menilai manusia lain itu gampang tetapi menilai diri saya sendiri ,mencari kesalahan sendiri susahnya minta ampun itu yang  menjadikan beberapa orang menjaga jarak dengan saya ditambah lagi mereka yang tidak mau mengungkap didepan saya. Disatu sisi saya bisa sangat peka, namun bisa juga begitu tumpul melihat apa yang terjadi.

Seorang teman berkata "Sudahlah ada kalanya sesuatu itu tidak perlu terlalu dipikirkan"

Mengamati dan mempelajari walaupun penilaian kita itu semua salah, tetapi mempelajari orang lain memberikan satu cerita gambaran baru tentang kehidupan.

Rabu, 04 Juli 2012

Dilahirkan oleh seorang perawan
Menderita dan sengsara pada jaman Ponsius Pilatus 
Engkau yang dicambuk, disiksa, bermandikan darah
Diolok, dicaci, diludahi
Engkau yang dimahkotai duri
Memanggul salib berat, jatuh hingga kedua kalinya, salib berat menimpamu
Namun Engkau tetap bangun kembali karena cintaMu kepada kami
Engkau yang dikhianati Yudas, muridMu
Paku yang menancap di tangan dan kakiMu
Engkau yang wafat diatas kayu salib, lambungMu yang ditombak
Semua itu rela Engkau lakukan karena karya penebusanMu Tuhan,
Karya penebusan kami orang berdosa
Karya cinta kasihMu yang begitu besar kepada kami anak-anakMu
Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memilih kami menjadi anakMu.
Berkatilah kami selalu Yesus agar nanti kami bisa duduk disisiMu.

Selasa, 03 Juli 2012

Dua kali terlambat

Setengah jam yang lalu, sebelum aku hendak pergi tidur aku dapati beberapa lembar kertas diatas rak yang sengaja aku cetak minggu lalu. Aku memutuskan untuk menunda tidurku, mengambil stabilo dan mulai membacanya diatas tempat tidurku. Lembar pertama terlewati, lalu memulai lembar kedua sambil aku coret apa yang aku rasa penting. Terkadang aku terlambat menyadari apa yang sebenarnya ingin disampaikan orang kepadaku. Pagi ini sama seperti beberapa tahun yang lalu, dengan dua tempat berbeda dengan kejadian yang hampir sama. Dua wanita dengan dua waktu dan dua tempat berbeda yang sebenarnya hanya ingin menyampaikan "Hei aku sudah punya pacar", tetapi aku menyadarinya dilain waktu lama setelah kedua wanita itu berusaha mengatakannya kepadaku. 

Dulu ketika aku begitu dekat dan begitu menyayangi seorang wanita, lalu ketika dia berusaha mengatakan status barunya aku baru mengetahui arah pembicaraannya beberapa waktu setelahnya, dan kejadian itu kini terulang lagi dengan wanita yang berbeda. Ya pagi ini setelah membaca itu semua aku hanya akan tersenyum, toh kamu sekarang bukan siapa-siapaku begitu pula sebaliknya kan? Semoga aku hanya salah membaca. Selamat pagi dan kali ini aku akan benar-benar tidur.
Kemelekatan


Bersemi dan entah kapan kembali.
Mewangi dan tetap akan mewangi.

Kuta Bali - Andre Hehanussa


Lagu ini menuntun tanganku menuju rak mengambil novel karangan Moammar Emka yang aku dapat dari seorang teman 3,5th yang lalu. Sekilas sampul novel ini terlihat biasa, namun jika meraba diatas judul Kuta Bali ada lirik lagu yang tercetak timbul disana. Begitu menggebunya aku menginginkan novel ini saat itu. Sungguh novel yang penuh cerita dibalik cerita yang disuguhkannya sendiri. Mendapatkan novel ini bukanlah perkara gampang, beberapa toko buku di Jogja bahkan Solo aku singgahi tapi hasilnya nihil. Ahha, tetapi begitu gampangnya temanku menemukannya dan membelikannya untukku. 

Mengkoleksi, membaca dan memandang barisan buku yang semakin lama makin memenuhi rak diatas tempat tidur memanglah menyenangkan. Ada kepuasan batin tersendiri ketika kita menginginkan sesuatu, berusaha mendapatkan dan menjaganya. Hingga seorang teman beberapa waktu lalu menghubungiku mencari donatur buku untuk disumbangkan di suatu desa di pulau seberang tempat dia KKN nanti. "Uda Yo sumbangin aja buku-bukumu, atau gak National Geographic-mu" memang sih dia tidak memintaku untuk menyumbangkan novel Kuta Bali ini atau novel sejenisnya, karena dia lebih mencari buku edukasi atau majalah yang dapat membuka wawasan orang di tempat dia KKN. Jelas dong aku menolak, mendapatkannya saja susahnya minta ampun masa disumbangin begitu saja. Sejenak aku teringat  cerita Jalaluddin Rumi yang rela membakar buku-buku demi menggapai pengalaman-pengalaman esktase (rasa kenikmatan yang sangat besar yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu, terpilih dan tidak sembarangan.) sesering mungkin. Keterikatan atau kemelekatan pada sesuatu benda atau orang memanglah tidak baik, seperti dalam ajaran Budha
Kemelekatan adalah sikap memberikan penilaian yang berlebihan pada suatu objek atau orang kemudian menempel padanya. Dengan kata lain kita membayangkan kualitas yang sebenarnya tidak dimiliki pada orang dan benda-benda, atau melebih-lebihkan yang mereka miliki. Kemelekatan adalah pandangan tidak realistis sehingga mengakibatkan kebingungan.
Melepas kemelekatan bukan berarti kita melepaskan semua milik kita dan tinggal di gua. Tidak ada yang berbahaya dengan kepemilikan harta / benda / orang yang kita sayang. Kita membutuhkannya untuk bertahan hidup. Masalah muncul hanya jika kita tidak memandang pentingnya harta / benda / orang yang kita sayang dengan realistis. Kemelekatan dan ketergantungan menimbulkan masalah tersebut, bukan harta / benda / orang nya. Dengan terbebas dari kemelekatan, kita dapat menikmati harta / benda / orang tersebut.

Yahh, aku harus belajar merelakan, belajar membakar buku (mengkosongkan pikiran) seperti Jalaluddin Rumi,  belajar tidak melekat pada suatu benda atau orang agar aku mendapatkan "esktase" ku sendiri. Selamat dini hari, selamat beraktifitas dimanapun kamu berada. 

Senin, 02 Juli 2012


Senyum Pada Dunia - Tangga


 

Lirik Senyum Pada Dunia - Tangga


Reff: bukalah matamu lihat saja
tak akan ada beban di hati
rasakan bebasnya ekspresikanlah dirimu
segalanya kan terjadi bila kita
tak menutupi hati dan rasa
jadi lepaskanlah tersenyumlah pada dunia
Setiap hariku jalani semuanya dng pasti
Ikuti kata hati
Dan aku tak pernah sekalipun tuk mencoba
Mengingat segala sedih melihat ke belakang lagi
   jauhkanlah (jauhkanlah)
   putus asa (putus asa)
   jalanilah saja
Repeat reff
Coba kita lakukan segala yg kita suka
Apa yg kita rasa
Tanpa harus kita pikir” deh
Selalu hati-hati malah jadi tak berani
   jauhkanlah (jauhkanlah)
   putus asa (putus asa)
   jalanilah saja (jalani saja)
Repeat reff
[ rap ]
Repeat reff

Lagi seneng sama lagu ini , ga perlu alasan 
pokoknya seneng!

Rumput tetangga selalu lebih hijau
"Jika pembandingnya yang serba lebih (lebih kaya, lebih cantik, lebih terkenal, lebih bijaksana) Maka surga pun tidak pernah terbuka. Akhirnya, hidup ternyata persoalan sikap. Surga maupun neraka ternyata hasil dari sikap. Bila sikapnya keluhan dan kekurangan maka neraka yang terlihat. Jika sikapnya bersabar dan bersyukur maka surga yang tampak"

Simfoni di dalam Diri - Halaman 309 - Gede Prama

Terjebak dalam satu pembicaraan bersama seorang teman tentang hal-hal yang menurut kami lebih diluar sana, dan terselip sebuah kalimat "rumput tetangga selalu lebih hijau" yang membuka pandangan kami. Membuka pandangan untuk tidak selalu berkejaran.
"Keserakahan membuat hidup manusia berkejaran, berkejaran, dan berkejaran. Selalu mengira rumah ada di depan. Ketika sekolah dasar mengira sekolah menengah pertama itu enak. Tatkala sekolah menengah pertama menduga sekolah menengah atas yang indah. Di bangku kuliah mengkhayal dunia kerja yang menawan. Sesudah kerja dan stress berfantasi pensiunlah dan istirahat. Setelah pensiun kehilangan rasa hormat orang. Penghasilan berkurang, dan sakit-sakitan"

Simfoni di dalam Diri - Halaman 246 - Gede Prama

Minggu, 01 Juli 2012

Aku punya seorang teman dia lucu sering mengakhiri pembicaraan di pesan pendek atau di chat dengan kata "Aye-aye". Barusan aku tau ternyata aye-aye adalah sejenis hewan pemakan larva serangga.


National Geographic Indonesia Edisi Mei 2012
Halaman 93 
"Ketika saya lebih cepat beberapa menit dari anda,
 rasanya gimana gitu "

Sabtu, 30 Juni 2012



Bagian terberat dari segala sesuatu dalam hidup, 
adalah memikirkannya.


Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1 Halaman-268
Ajahn Bram


Sekarang saya menemukan alasan yang tepat untuk kembali tersenyum setiap hari, lagi.

Jumat, 29 Juni 2012

Pernikahan beda agama


Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Potongan lirik tersebut dibawakan apik oleh Marcell - Peri Cintaku.

Pernahkah kalian berpikir "kenapa aku dilahirkan dikeluarga ini" "kenapa aku memeluk agama ini" "kenapa begini dan kenapa begitu". Tulisan ini tidak untuk memperdebatkan, menyesali apa yang Tuhan berikan kepada kita tetapi hanya untuk bahan perenungan. Lama aku berpikir mencari satu persatu jawaban dari pertanyaan diatas. Semisal ketika aku berkenalan dengan lawan jenis, ketika aku mengetahui dia berbeda keyakinan denganku semacam ada pembatasan (dalam hati) tak kasat mata untuk hanya bisa sekedar berteman tidak lebih. Walaupun setiap perkenalan dengan orang baru tidak lantas semuanya berujung ke hubungan yang serius ya (pacaran). Atau tertanam dari pesan banyak orang tua kepada anaknya untuk mencari pasangan hidup seiman. Tulisan ini tidak mencoba memperdebatkan teologis, apakah pernikahan (pacaran) beda agama diperbolehkan ataukah tidak, melainkan sekadar merenungkan  masalah yang muncul dari pasangan yang berbeda agama. Banyak cerita diantara teman-temanku yang mulai mempertanyakan pernikahan beda agama ini, karena hubungan mereka dengan pasangan beda agama mereka yang mulai serius. Saking penasarannya aku dengan pertanyaan tersebut, aku meluangkan waktu untuk mencari buku tentang pernikahan beda agama dan akhirnya aku menemukan buku di perpustakaan UAJY  "Halangan-halangan nikah menurut Gereja Katolik" karangan Dr. Alf. Catur Raharso Pr, lalu sebuah tulisan bersumber dari www.e-psikologi.com berjudul "Pernikahan beda agama " pelengkapnya aku membaca di Gramedia buku tulisan Ahmad Nurcholish "menjawab 101 masalah nikah beda agama". Dari beberapa sumber yang saya pelajari tersebut sebenarnya setiap agama tidak menyarankan perkawinan beda agama, (menurut pandangan Katolik) karena Mengingat relevansi iman terhadap perkawinan sakramental dan pengaruh sakramen perkawinan bagi kehidupan iman itulah Gereja Katolik menginginkan agar anggoranya tidak melakukan perkawinan campur. Disamping itu perlu diindahkan, yakni bahwa setiap orang dilarang melakukan sesuatu yang membahayakan imannya. Iman adalah suatu nilai yang amat tinggi, yang perlu dilindungi dengan cinta dan bakti. Namun pihak gereja juga ingin bersikap realistis. Ia mengakui setiap orang memiliki hak untuk bebas menentukan status hidupnya, entah hidup menikah atau tidak menikah (selibat) Kanonik.219. Dan kalau seseorang memilih untuk menikah, ia bebas menentukan jodohnya sendiri, sekalipun berbeda iman atau agama. Sepengetahuan saya sekarang ini di Indonesia sendiri kantor pencatatan sipil tidak akan mencatatkan pernikahan beda iman. Mereka hanya akan mencatatkan pernikahan satu iman, masalah sah atau tidak negara menyerahkan kepada tiap-tiap agama. UU RI No 1 Tahun 1974 Bab1 Pasal 2 ayat 1 menyebutkan "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."  Idolaku Rio Febrian pun mengalami masalah serupa, RF memeluk Kristen dan istrinya Sabina Kono memeluk agama Islam mereka terpaksa melangsungkan pernikahan di Bangkok. Ini juga bukan sekedar sahnya suatu hubungan, tetapi bagaimana ikatan diantara kedua jiwa, kedua iman ini dapat terjadi. Aku penasaran sekali dengan pernikahan beda agama ini karena sering pula aku menjalin hubungan dengan orang beda agama.  Pasangan yang memulai hubungan beda keyakinan banyak beranggapan masalah mereka tentang keyakinan akan terselesaikan dengan seiringnya waktu, sebenarnya itu tidaklah benar. Cinta yang menggebu diawal pasti ada titik terendahnya juga, disitu (jika sudah memasuki pernikahan) akan terasa problemanya. Sebelum memutuskan menikah beda agama kedua pihak haruslah mempunyai batasan yang jelas tentang hubungan mereka kedepan. Pernah ga kalian mencintai seseorang, tetapi setelah menyadari kalian berbeda keyakinan kalian menjerit dalam hati bertanya kenapa ini? Nyesek ga sih? Cinta memang tidak bisa memilih, namun agama juga tidak bisa dipersalahkan juga ini untuk kebaikan bersama. 


Sempat aku berbicang pula dengan seorang Psikiater, setelah lama kita berbincang akhirnya kita menyimpulkan bahwa titik terberat pernikahan beda agama itu bukan saja ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai (berbeda agama tersebut) namun bagaimana kita menikahkan kedua keluarga kita (keluarga pria dan keluarga wanita). Karena hubungan kita tidaklah mulus jika didalam keluarga saling bertentangan. Banyak sekali problema kehidupan, karena untuk itulah manusia diciptakan, untuk menjalaninya. Kita tidak pernah bisa memilih kehendak Tuhan, kapan kita dilahirkan, dimana, dari keluarga mana, memeluk keyakinan apa, jatuh cinta dengan siapa (seiman atau tidak) marilah kita syukuri apa yang kita terima dan tetap menjalani hidup ini dengan masalah-masalahnya. 


Aku tidak akan membatasi cintakku kepada siapapun.. Kita sama sama manusia kenapa kita tidak membebaskan untuk mencintai siapapun sekalipun harus berbeda status, agama, budaya, suku dll. 
Nomaden #hore


Berawal dari keprihatinan 5 anak manusia Rio, Ardi, Henny, Arum, Renny  melihat bencana erusi merapi 2010 lalu, kami merasa terpanggil untuk membantu korban bencana selagi banyak mahasiswa/i disuruh pulang orang tuanya karena khawatir merapi meletus hebat saat itu. Hujan pasir dan hujan debu memperparah keadaan jogja. Pada awal bencana, Nomaden bergerak mencari dana di sekitar kampus. Lalu dana yang terkumpul waktu itu dibelanjakan nasi bungkus untuk dikirim langsung ke posko bencana di Van Lith Muntilan. Bukannya gampang berkendara diatas pasir dan lumpur tebal dijalan, kedua yang membawa nasi bungkus sepat tergelincir beberapa kali saking licinnya jalan. Melewati jalan Magelang serasa memasuki wahana di dunia fantasi alangkah luar biasanya kekuatan alam, batu-batu berasal dari Merapi seukuran mobil di Kali Putih yang merontokkan jembatan, pohon-pohon kelapa yang tertutup pasir dan kanopi rumah yang kompak ambruk karena tidak kuat menopang beratnya pasir dan debu.

Kami pada waktu itu berkoordinasi dengan posko bencana Momento Cafe Jl Jembatan Merah (Sekarang di Ringroad Utara), posko momento juga membuka gerakan nasi bungkus untuk disebar ke posko-posko yang belum tersentuh bantuan pemerintah. Posko Momento Cafe digawangi Mas Peye berkoordinasi menggunakan HTnya untuk mencari posko mana yang belum tersentuh bantuan. Bantuan pemerintah Yogya pada waktu itu masih terpusat di Stadion Maguwoharjo saja. Selain aktif mencari dana Nomaden juga sempat membantu dapur umum bersama puluhan relawan lainnya di Momento Cafe, kupas bawang, potong wortel, bungkus nasi dan lainnya. Pelajaran pertama saat bencana itu adalah pikiran semua manusia yang sama yang ingin menolong dengan mengirimkan nasi bungkus atau mie instant alhasil ratusan bahkan ribuan nasi menjadi basi karena melimpahnya persediaan. Tetapi keperluan kecil yang tidak terpikir seperti pembalut, obat sakit ringan, susu bayi, bubur bayi malah menjadi keperluan vital yang terlupakan.

Sama seperti namanya Nomaden, kami selalu berpindah-pindah dalam membantu korban. Diantara kami ada yang membantu di posko SMP Kalasan bersama Mahasiswa Janabadra,dan bergabung dengan BNPB (Badan Nasional Penangulangan Bencana). Di posko kalasan  kami membantu angkut-angkut barang, membagikan makan prihatin juga melihat banyak orang kehilangan rumahnya. Di BNPB awalnya kami diberi kepercayaan mendata posko seperti lokasi posko, asal pengungsi, jumlah pengungsi, ketersediaan sarana penunjang, kebutuhan mendesak.  Karena tau kami mahasiswa/i informatika kami diberi kepercayaan untuk mengembangkan software sistem informasi lokasi pengungsi. Sistem informasi  tersebut menjelaskan lokasi pengungsi, jumlah pengungsi, pemerataan bantuan agar bantuan yang diberikan merata dan tidak terpusat di satu titik. Nah masalahnya, pada saat kami bertanya kepada atasan divisi IT apa tools yang digunakan untuk membuatnya, bapak itu tidak memberikan jawaban memuaskan (dianya sendiri seperti tidak paham cara membuatnya).

Kami merasa apa yang kami lakukan masih kurang dibandingkan dengan apa yang dirasakan korban, lalu saya mengirimkan sms ke saudara di Jakarta dan di Bandung memohon bantuan donasi. Puji Tuhan karena kepercayaan, banyak donatur yang turut menyumbangkan rupiah. Ini bukan masalah nominal yang diberikan sekali lagi bukan tetapi lebih kepada besarnya kepercayaan yang diberikan kepada kami, Nomaden. Jumlah bantuan terus mengalir, sampai-sampai suatu pagi saya mendapat pesan pendek bahwa pagi itu sudah ditransfer ke rekening jumlah uang yang menurut ukuran mahasiswa seperti kami sungguh luar biasa besar.

Nomaden tidak langsung membelanjakan semua uang tersebut, kami tetap berkoordinasi dengan Momento Cafe kebutuhan apa saya yang paling dibutuhkan dan dimana saja lokasinya. Berbekal informasi tersebut kami membelanjakan kebutuhan seperti bubur bayi, pakaian dalam, obat ringan, sembako lengkap. Bantuan sembako seperti beras, mie, minyak, gula kami bagi menjadi kantong-kantong kecil. Nomaden membelanjakan langsung di pasar Beringharjo, karena harga disana termasuk miring. Masalahnya sekarang, bagaimana membawa ratusan kantong sembako dan kebutuhan lain ke tempat terpelosok dengan medan yang dikabarkan ekstrim? Sekali lagi tangan Tuhan membuka jalan, kami mendapat bantuan dari PP VW region Jogja. Nomaden mendapat tumpangan 1 mobil VW Combie langsung disupiri oleh ketua PP VW Jogja. Ternyata mobil tua tetapi stamina mesin tetep ga kalah lo dengan mobil tahun 2000an. Untuk medan yang ekstrim ada juga Jeep yang siap membantu dari Cendra Hogy, anak ketua salah satu komunitas Jeep Jogja, tidak lupa Andy Zico untuk medan standart tidak lupa Albertus Ndaru dengan Pick Up nya siap membawa bantuan kayu bakar. Kalau semua mobil sedang dipakai mengirim bantuan nomaden tak surut semangat masih ada sepeda motor menemani kami, kami sempet lo ngirim bantuan berupa beras, perlatan masak yang segede gaban cuma pakai motor sampai ke Deles Klaten. Padahal medan yang kami tuju menanjak dan masuk daerah ring bahaya letusan 1.

Dari tragedi merapi ini kami mendapat banyak kenalan baru, kisah suka duka, manajemen emosi dalam kelompok pokoknya seru (diatas bencana kok seru). Yang terkesan sampai saat ini, saat aku bertemu dengan orang yang duduk bersama temannya di depan pintu sebuah ruangan. Jangankan no telp nya, namanya saja aku gak tau. Aku lupa bagaimana cara kita berkenalan, tapi ternyata waktu memang mempertemukan bahkan memperkenalkan kita.

"Terbuat dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi" - Kyoto Monogatari halaman 60 - Seno Gumira Ajidarma -

Ga kerasa selama itu Nomaden sudah menjelajah daerah Gantiwarno klaten, Deles Klaten,Dukun Muntilan, Mungkid Muntilan, Sawitan, Muntilan, Saban daerah Ketep, Promasan Kulon Progo, Piyungan. Penjelajahan belum sampai disitu, aku dan Ardi sempat diminta bantuan Pandhu teman dari Komunikasi UAJY untuk mendistribusikan bantuan dari artis-artis seperti Nicholas Saputra dan crew fim di Jakarta. Benar, malam itu aku meluncur ke rumah Devi Carisa di daerah Muntilan yang dijadikan base camp. Malam itu datang bantuan 1 truck berisi genset 2200w sebanyak 10 buah dan beberapa karung pakaian layak pakai dari artis-artis, susu, bubur bayi dan uang untuk dibelanjakan bantuan sembako. Gila bagi 10 genset gimana caranya biar tepat sasaran? Untung di masa modern ini ada Twitter yang bisa di menyebarkan informasi daerah mana yang listrik masih padam dengan cepat. Genset itu hibah dari donatur industri film Indonesia. Malam itu datang pula dari Jakarta Pak Yadi Sugandi, bapak-bapak dengan kacamata tebal dan perawakan agak kurus yang mengawal distribusi bantuan. Ternyata Pandhu dan Pak Yadi Sugandi belum pernah bertemu namun mereka terlihat akrab sekali. Twitter ternyata penyebannya. Keesokan harinya, aku Pandhu dan Pak Yadi Sugandi meluncur ke salah satu daerah di Borobudur untuk meninjau langsung distibusi bantuan. Dan disitu aku baru tau, ternya Pak Yadi Sugandi adalah seorang sinematografer yang juga sutradara film "MERAH PUTIH". Bawaan Pak Dop sapaan akrabnya sangat merendah, gak sombong pokoknya seru lah. Setelah kepulangan Pak Yadi Sugandi ke Jakarta masih ada satu genset yang dipinjamkan, kali ini bukan genset biasa. Genset 60.000w seukuran bak truck beserta BBM dipinjamkan untuk bantuan distribusi listrik. Bayangin aja, genset untuk konser dipakai buat sumber listrik desa yang rata-rata daya tiap rumah 400-900w. Listrik 1 desa bisa terpenuhi, bahkan lebih. Biaya BBM genset ini gak murah lo, per malam (asumsi 12 jam)  sekitar 300-400rb, itupun dibiayai dari donatur wahh banyak juga orang kaya yang inget orang menderita ya. Setelah semuanya mulai kondusif, pemerintah mulai ambil peranan menjalankan kewajibannya menngatasi bencana.

Nomaden diundang Relawan Momento Cafe ke acara "Malam Relawan". Bertempat di base camp Momento Cafe di Jl. Jembatan Merah , malam itu semua relawan berkumpul bernyanyi bersama dan menikmati sajian yang semuanya gratis. Seru berkumpul, bercerita, berbagi pengalaman bersama apalagi ada Djaduk Ferianto yang ikut memeriahkan. Nomaden Hore semoga kita bisa bersama lagi tanpa harus terjadi bencana, di acara nikahanku kali ya kalian jadi WO nya? (Kalau nikah :D )

Terus terang akupun tak pernah mengerti, dari begitu banyak pilihan untuk tetap tinggal diam, dan mengagumi tanpa diketahui, tapi aku lebih suka memilih untuk menyapa, dan berkata "halo, ini aku lo, Yoannes Rio Pujatmiko apakah kamu suka mendengarkan? karena aku suka bercerita" setidak-tidaknya ketika perpisahan entah dengan cara apapun, bahkan tanpa diketahui, tapi seseorang telah mengetahui aku "Yoannes Rio Pujatmiko" , dan biar dia memutuskan untuk mengingatku dengan cara dan seperti apa, atau menganggap tidak tahu. Terima kasih untuk orang yang sudah menuliskan ini

Kamis, 28 Juni 2012

04:12 Pagi ini aku terbangun dan memikirkan apa yang baru saja aku mimpikan. Sekali lagi seperti dengan beberapa waktu lalu aku tulis aku tidak sedang begitu merencanakan mimpiku. Ada seorang gadis kecil bermain denganku karena kesepian di sebuah tanah lapang. Dengan gembira kami bermain dan bernyanyi bersama. Hingga suatu ketika ibunya datang dengan muka yang sangat marah melihatku. Ibunya datang dan memberiku uang puluhan ribu, menganggap aku seorang pesuruh. "Siapa kamu? lihat dirimu" itu tutur sang ibu ketika aku mendekatimu. Lalu kamu beranjak pulang bersama ibumu, walaupun sebenarnya dia selalu kesepaian dan menangis didalam kamarnya. Mungkin kita dulu pernah bertemu, bertemu disaat dia masuk dalam boneka jerapah yang terbuat dari kertas. Sampai aku mengetikkan tulisan ini, aku berharap ini hanya mimpi. Mimpi yang tidak terjadi dikehidupan nyata dimana mungkin kita nanti bisa dekat dan ibumu....

Rabu, 27 Juni 2012

Akhirnya

Satu fase terlewatkan, tugas terakhir untuk dikumpul di ujian besok siang selesai juga.
Semoga ini tugas terakhir sebelum semester depan bercinta dengan skripsi. Ya setidaknya liburan singkat sudah didepan mata. Mau Backpack kemana ya? Jakarta, Bandung atau Karimunjawa? Kalau liburan itu mengenal istilah SKS, mungkin tiap semesternya aku ambil 24 SKS dan selalu mendapat IP 4.
Aku selalu menikmati setiap liburanku dengan caraku, ya cara berlibur yang kadang sendirian.

Diawali awal tahun di Jakarta bersama keluarga besar, lebih tepatnya tugas kenegaraan jemput keluarga Jakarta pulang ke Jogja. Lalu bulan Februari kembali ke Jakarta transit beberapa hari dan mengunjungi teman-teman #STMJ di tempat kerja mereka BSD. Lalu liburan dilanjutkan menuju Medan, kota yang baru pertama aku injak. Kota yang menyuguhkan keunikan-keunikannya, semisal kereta (sebutan untuk sepeda motor) yang diangkut diatas motor (sebutan angkutan umum), lalu kebiasaan anak-anak yang naik diatap motor sepulang mereka sekolah. Medan menyuguhkan keunikan tersendiri, ciri khas kota yang panas, berdebu dan kota dengan tingkat kesemrawutan pengendaranya yang bukan main.Oh iya, waktu itu saya beli tiket Jakarta Medan cuma Rp160.000 lo itupun PP.

Bulan Mei berkunjung ke pulau Dewata selama 3 hari berziarah "disambi" liburan ke beberapa tempat standart seperti Kuta, Benoa dsb. Di Bali tadinya kencan ketemuan Kembar & Ciri adiknya Titin tapi batal, janjian sama Widya juga batal gara-gara Bali macet dimusim liburan. Sebenernya punya segudang temen di Bali tapi mereka pas lagi gak pada pulang kampung kan lumayan dapet gratisan makan. Dalam kamus BackPacker ku tertulis "Kalau ada yang gratis, kenapa pilih yang paling murah?" Oh iya, oleh-oleh dari Bali itu kapan aku anterin ya?

Pertengahan Juni ini Dieng aku hirup pula udaranya, ya sama seperti Dieng dimana dulu aku dan dia menghirup udara itu. Lalu akhir Juni ini masih ada satu tempat yang hendak aku singgahi, Solo. Tanggal 30 Juni ini akan diadakan Solo Batik Carnival 5, tahun lalu aku ikut memeriahkan SBC 4 dengan dandanan batik klasiknya. Ya, tahun lalu aku sempet tinggal di Solo 2 minggu untuk menyelesaikan Kerja Praktek di salah satu tour agent ternama . Rame dan serunya SBC tahun lalu bikin nagih, sabtu ini rencanya aku pergi dengan membawa seabrek pasukan dari Atma Jaya.

Juli besok kemana ya?
Pulang ke kotaMu?


Aku Rasa

Aku rasa dengan membaca banyak buku-buku psikologi, dengan membaca artikel psikologi dan aku rasa dengan berkonsultasi dengan seorang psikiater aku bisa banyak memahami banyak tentang manusia.
Ternyata aku salah itu semua tidaklah menjawab sepersekian dari tumpukan pertanyaan-pertanyaanku.

Aku rasa dengan begitu banyak aku mengamati tingkah dan kebiasaan manusia aku dapat menangkap makna dari setiap tindakan mereka.
Ternyata aku salah.

Aku rasa dengan memiliki banyak teman dan menanyakan kepada meraka aku mendapat atas semua kepanikanku namun aku salah, merekapun sedang sibuk mencari jawaban mereka masing-masing.

Aku rasa dimensi dalam pikiranku dapat menjelajah jauh ke pikiran manusia itu namun sekali lagi aku salah, setelah malam ini tersadar aku hanya berada di teras pikirannya.

Aku rasa dengan banyak tau tentang manusia itu aku akan begitu mengenalnya.
Aku rasa dengan begitu banyak mendaraskan doa untuknya aku akan didekatkan kepadanya.
Aku rasa dengan begitu banyak memikirkannya aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan.
Sekali lagi aku salah, ya aku salah.

Dulu 6 tahun yang lalu aku pernah bertanya, menjerit kepada Tuhan, memohon dijawabkan atas pertanyaanku.
Kini setelah 6 tahun berlalu aku tau, aku mendapatkan jawaban itu.
Namun ketika sekarang aku kembali berada di sebuah pertanyaan, haruskah aku menunggu selama 6 tahun untuk mendapatkan dari sebuah jawaban?
 Entahlah, ketika aku enggan memikirkannya pun ia selalu datang menghantui mimpiku. 



Senin, 25 Juni 2012

Tolong aku

Ketika bagian tubuhmu merasakan ada yang tidak beres, kamu bisa menanyakan obatnya kepada dokter.
Ketika kamu tidak bisa membangun rumah, kamu bisa meminta kepada tukang.
Ketika kamu tidak bisa menemukan jalan pulang, kamu bisa memohon kepada sekitarmu.

Namun
Ketika kamu tidak bisa mengidentifikasi apa yang salah dengan perasaanmu, atau
memang tidak terjadi sesuatu di dalam hatimu. Kepada siapa aku harus bertanya?
Ketika diriku pun tidak bisa menyembunyikan isi perasaan ini, kepada siapa aku harus meminta?
Ketika diriku berjalan dalam kesepian dan merasakan ada bayang yang selalu mengikutiku, kepada siapa aku harus memohon?

Ketika semua terasa sudah terlambat. kepada siapakah aku harus memohon untuk memulainya lagi?

Tolong aku, sebagai manusia biasa tolonglah aku
Tolong aku, ini sungguh menyiksa
Tolong aku, katakan apa yang seharusnya dilakukan manusia ini?
Tolong aku!
Mengatur mimpi

Beberapa waktu ini mimpiku selalu diperankan oleh orang yang sama setiap malamnya.
Di sepanjang waktu luangku pun yang terlintas dan selalu melintas adalah pemeran itu-itu saja.
Ini bukan "lebay" atau bayangan semata, ini sungguh terlihat nyata.
Aku dulu pernah memikirkan seorang sepanjang hari, namun aku rasa itu tidak akan bisa membuatku mengatur mimpi dalam tidurku.
Aku pernah belajar tentang Precognitive Dream , namun aku masih belum mengerti sepenuhnya. Ok lah, nanti siang aku akan googling mempelajarinya.

Minggu, 24 Juni 2012

Dia
 
"Dalam bagian hidupku, Dia yang aku hindari 
adalah Dia yang aku harapkan. 
Entah berapa lama"

Yoannes Rio Pujatmiko

Sabtu, 23 Juni 2012

Romantis?

Dengan apa kalian akan menggambarkan "romantis"?
Membawakan sepuket bunga mawar lengkap? Atau
mengajak dia makan berdua ditemani cahaya lilin seperti kebanyakan orang?

Bukan, aku tidak menggambarkan "romantis" seperti itu. 
Semuanya tidak harus dinyatakan dengan bunga, semuanya tidak harus digambarkan dengan kebersamaan. 

Ketika dia jatuh sakit aku akan membuatkannya juice, juice buatanku dan aku akan membelanjakan buah-buah itu sendiri. Iya buah pilihan terbaik yang aku pilih sendiri di supermarket, aku berharap dengan  beriring doa buah itu dapat menjelma menjadi obat yang bisa segera menyembuhkannya.

Aku akan menahan kangenku dengan tidak menghubunginya, tidak menelpon ketika dia sibuk belajar menjelang ujian. Aku ingin dia konsentrasi belajar demi masa depannya.

Aku akan berbohong ketika dia menangis dan dia menanyakan "apa aku masih terlihat cantik?", aku akan menjawab "tidak, kamu jelek sekali".

Ketika kita masih belajar bersama, aku akan mulai menabung. Menabung seribu demi seribu untuk biaya kita pergi ke suatu negara jauh disana. Negara yang sama-sama kita impikan. Walaupun tabunganku baru akan terkumpul berpuluh-puluh tahun lagi. Walaupun kebersamaan kita berkesudahan sebelum semuanya terkumpul, namun aku ingin menabung demi impian kita.

Ketika dia nanti mulai bosan denganku, atau dia sudah menemukan orang terbaik disisinya aku hanya akan tersenyum dan berkata "semangat".




Tunggu 
 
Dengan putus asa, tak berdaya dan penuh rindu aku berseru, dan Tuhan menjawab aku dengan tenang, sabar dan lemah lembut. Aku mendesak dan meratap, agar ditunjukkan-Nya jalan keluar bagi nasibku... dan Tuhan dan Guruku hanya menjawab lembut, "Tunggu".

"Tunggu? Kau bilang lagi, Tunggu?" demikian aku marah membantah. "Tuhan, aku membutuhkan jawaban, aku ingin tahu mengapa!" Dimana uluran tanggan-Mu? Tak terdengarkah seruanku oleh-Mu? Dalam iman kubertanya, dan aku sedang menunggu kata-kata-Mu.

Tuhan, aku berada dalam kebingungan dan keraguan, toh Kau berkata kepadaku, "Tunggu?" Padahal kubutuhkan kata dari-Mu "Ya", agar aku boleh berjalan terus, atau bahkan kata "Tidak", agar aku harus berhenti dengan jalanku.

Tuhan tercinta, kata-Mu, bila kami percaya , kami hanya perlu meminta dan kami akan memperoleh. Tuhan, aku telah meminta, dan inilah jeritanku : aku sudah letih meminta! aku membutuhkan sebuah jawaban.
Toh Kaubiarkan aku terus menunggu, dan Kau sendiri selalu menjawab aku, "Tunggu".

Maka kujerembabkan diriku dikursi, aku jengkel dan kalah, Dan aku menggerutu pada-Mu, Tuhan, "Aku menunggu... untuk apa?"

Tiba-tiba kulihat Kau menunduk berlutut, mata-Mu bertatapan mataku dan lembut Kau berkata, "Kiranya Aku dapat memberimu sebuah tanda. Aku dapat menggoncangkan langit dan menggelapkan matahari. Aku dapat membangkitkan orang mati dan membuat gunung-gunung berlari.

Aku dapat memberikan apa saja yang kau minta dan menyenagkan kamu. Kamu akan memiliki apa yang kamu inginkan, tapi kamu takkan mengenal Aku. Kamu takkan mengenal kedalaman cinta-Ku yang akan kuberikan padamu. Kamu takkan mengetahui kekuatan yang Kuberikan pada kerapuhanmu.

Kamu takkan belajar melihat lewat awan-awan keputusasaan. Kamu takkan belajar percaya, bahwa aku ada dan mendampinggimu. Kamu takkan mengenal kedalaman karena boleh beristirahat dalam Aku, ketika hanya kegelapan dan kesenyapan yang meliputimu.

Kamu takkan mengalami kepenuhan cinta, ketika kedamaian roh-Ku turun laksana burung merpati. Kalau kamu memaksa jawabanku, kamu hanya mengenal Aku dalam kedangkalanMu, takkan pernah kamu takkan tahu kedalaman detak-detak hati-Ku.

Cahaya penghiburan-Ku menyusup di waktu malam, Kuberi kamu iman ketika kamu berjalan tanpa penglihatan. Kamu akan menerima kedalaman lebih daripada sekedar apa yang kau minta, yang lahir dari ketakterbatasan-Ku, yang membuat milikmu berlangsung selamanya.

Bila beban dan deritamu cepat berlalu, kamu takkan pernah tahu apa artinya kata "rahmat-Ku cukup bagimu". Impian-impanmu boleh saja menjadi kenyataan, tapi apa artinya itu, jika kau kehilangan semua yang seharusnya Kukerjakan padamu.

Maka, diamlah, anak-Ku, dan bila waktunya tiba, kamu akan melihat, bahwa anugerah terbersar bagimu adalah bila kau sungguh mengetahui-Ku. Maka meski sering jawabanku datang dengan amat terlambat, Aku akan tetap berpegang pada kata-kata-Ku terdahulu : "TUNGGU".

Diambil dari Majalah Utusan, Maaf saya lupa edisinya

Dulu seingkali aku meminta jawaban instan dari Tuhan atas apa yang aku tanyakan, sempat pula "menjerit" seperti diceritakan diatas. Namun ada maksud tersendiri dari "tunggu" yang telah Tuhan siapkan untukku. Kini dengan mau menunggu dan melihat Tuhan berkarya dengan rencanaNya, aku tidak hanya melihat cintaNya yang sungguh besar tetapi


P A T U N G
            
Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku.
    “Lihatlah orang bodoh itu,” katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.”
Kulihat  gadis disampingnya, menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran.
“Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa kepastian untuk kembali. Nanti engkau juga akan menjadi patung seperti dia.”
Gadis itu memandangku dengan takjub. Berbeda dengan pandangan neneknya yang penuh pelecehan.
“Tapi nek, bukankah itu berarti dia sangat setia?”
“Itu bukan setia namanya. Itu bodoh.”
“Katanya kalau kita mencintai seseorang, kita harus setia kepadanya.”
Nenek itu mengalihkan pandang dariku, menatap gadis itu dengan tajam.
“Cinta itu ada dua. Yang pertama cinta buta. Yang kedua cinta pakai Otak. Yang pertama biasanya membuat kita menderita. Yang kedua biasanya membuat kita selamat.”
Lantas nenek itu menuding kepadaku.
“Cinta orang bodoh itu termasuk cinta buta. Sudi amat dia menunggu kekasihnya ditempat ini sampai menjadi patung.”
Gadis itu masih menatapku dengan takjub.
“Tapi barangkali dia bahagia nek.”
Neneknya menjawab sambil melongos, dan melangkah pergi.
“Aku tidak tahu, apakah orang yang menunggu selama dua ratus tahun masih bisa bahagia. Apalagi sampai jadi patung.”
Aku melihat mereka pergi menjauh. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka. Tapi aku memang sudah menjadi patung. Seluruh tubuhku mulai dari ujung jari kaki sampai ujung rambutku telah menjadi batu. segenap urat syaraf, darah, kulit, usus, jantung dan paru-paru, apapun dari tubuhku telah menjadi batu, sehingga akupun menjadi patung. Aku tinggal pikiranku. Menatap ke satu arah tanpa bisa menoleh.
Di arah itulah, di mana selama duaratus tahun aku menatap matahari turun perlahan-perlahan ke balik gunung, aku menunggu dia muncul seperti yang dia janjikan duaratus tahun yang lalu.

“Kamu mau kemana, sayang?”
“Tunggulah disini, aku pergi cuma sebentar.”
“Ke mana?”
“sebentar.”
“Mau ngapain?”
“Aku pergi cuma sebentar, tunggulah disini, aku segera kembali setelah iblis itu mati.”
“Jadi dikau akan pergi memburu iblis, sayang?”
“Ya, aku harus membunuhnya, setelah itu aku baru bisa pacaran dengan tenang. apakah kamu akan menunggu aku sayang?”
Aku tidak menjawab, namun dia tahu aku akan menunggunya sampai mati. Aku terus menerus berdiri di tempat ini menunggu senja tiba seperti dijanjikannya.
“Aku tidak akan terlalu lama, aku akan muncul di ujung jalan itu ketika senja. Aku akan muncul ketika matahari yang jingga dan membara turun di antara dua gunung itu. Dikau akan melihatku sebagai siluet. Muncul sebagai bayang-bayang hitam berambut panjang yang berlari menujumu. Tunggulah aku disini, di luar desa ini, aku akan muncul di ujung jalan itu menenteng kepala iblis sebagai hadiah untuk perkawinan kita.”
Dia memang tahu segalanya. Hampir tiada hal yang tiada diketahuinya seperti dia tahu bahwa iblis sebetulnya tidak pernah mati. Pada saat itu pun aku tahu betapa aku akan terus menerus menunggui kedatanganya sampai mati. Namun barangkali inilah yang tidak pernah diketahuinya: ternyata aku tidak mati-mati. Aku terus menerus menunggu dari senja ke senja sampai dua ratus tahun sampai lama-lama menjadi patung. aku terus menerus menanti dan mengharapkannya, siapa tahu dia muncul dari ujung jalan setapak itu sebagai siluet wanita berambut panjang yang menenteng kepala iblis.
Orang-orang desa yang lewat menuju ke sawah dengan santun selalu bertanya.
“Janjian nih?”
“Iya mang.”
“Ke mana sih dia?”
“Pergi sebentar mau membunuh iblis.”
“Aduh jang, Iblis mah kagak bisa dibunuh.”
“Biarinlah mang, sudah maunya begitu.”
“Jadi mau menunggu terus nih?”
“Iya mang, namanya juga pacar.”

“Bagus Jang, tunggu saja, namanya juga pacar, katanya kapan kembali?”
“Katanya sih setelah senja tiba.”
“Senja kapan?”
“Senja setelah iblis itu dibunuh.”
Orang-orang desa dengan santun menyimpan ketawanya sampai di kejauhan, meskipun aku selalu bisa mendengarnya. Lama-lama aku terbiasa. Dan lama-lama orang-orang desa pun tidak bertanya-tanya lagi. Semua orang tahu kenapa aku berdiri di pertigaan itu, menatap terus menerus ke arah cakarawala dimana matahari senja selalu tenggelam di utara dua gunung itu, seperti lukisan anak-anak sekolah dasar.
“Kenapa orang itu?”
“Oh, dia orang yang sedang menunggu kekasihnya.”
“Memangnya kemana kekasihnya itu?”
“katanya pergi untuk membunuh iblis.”
“Jadi dia menunggu kekasihnya?”
“Iya.”
“Dan kekasihnya itu baru akan pulang setelah membunuh iblis?”
“Iya.”
“Kasihan,”
“Kok kasihan?”
“Barangkali kekasihnya sudah kawin sama orang lain.”

***

Aku terus menerus berada di sana, di pertigaan di luar desa menghadap sawah membentang seperti permadani. Kemudian tumbuh pohon beringin di pertigaan itu. Akarnya membelit-belit badanku. Aku tidak bisa berkutik karena telah menjadi patung. Tiada yang bisa kulakukan selain menunggu. Hidup tidak memberiku banyak pilihan selain mencintai dia. Aku akan terus menerus menunggu dari senja ke senja. Lagi pula aku sungguh menyukai langit senja, membayangkan dia akan muncul dari balik cakarawala di latar belakangi langit ungu dengan mega-mega yang terpencar dalam semburat cahaya jingga yang membakar.

Sudah dua ratus tahun aku menatap ke barat, sudah dua ratus tahun aku menatap senja demi senja yang gemilang dengan permainan warna dan cahaya. Menatap senja bagaikan menatap dirinya. Kubayangkan di balik cakrawala itu ia bertempur melawan iblis yang tidak akan pernah mati. Dengan pedang samurainya yang berkilat ia bagaikan menari-nari di tengah api jelmaan iblis yang berusaha membakar dan menghanguskannya. Segala hal bisa kubayangkan tentang apa saja yang mungkin terjadi dibalik cakrawala itu. Kenapa tidak? Semenjak menjadi patung, aku tinggal pikiran. Seluruh tubuhku membatu sehingga aku tidak bisa bergerak kemana-mana. Akar-akar pohon melilit tubuhku tanpa aku bisa berkutik. Pohon beringin tumbuh menjadi besar sehingga membuat tempatku berdiri mematung itu rindang. Banyak orang suka berteduh disini, menghindar dari terik panas matahari. Mereka menambatkan kuda atau kerbaunya ke tubuhku, lantas tidur di bawah pohon beringin. Mereka akan bangun setelah senja tiba.
“Hei lihat, patung itu menatap senja.”
“Ya, Kata orang-orang tua desa ini, patung itu dulunya orang betulan.”
“Orang betulan?”
“Ya, Orang betulan yang berdiri disitu, menunggu kekasihnya yang pergi untuk membunuh iblis.”
“Membunuh Iblis?”
“Iya.”
“Sedangkan sampai sekarang pun iblis tidak mati-mati.”
“Lha iya, konyol betul orang itu. Barangkali kekasihnya itupun sudah mati sekarang. Lha wong iblis masih berkeliaran.”
“Ya, begitulah, tapi orang ini pokoknya menunggu.”
“Orang itu patung ini?”
“Iya, patung ini”
“Jangan-jangan dia mendengar kita.”
Aku memang mendengarnya. Aku mendengar segalanya tumbuh. aku mendengar burung berkicau diatas kepalaku. Aku mendengar desis ular merayap diantara akar-akar yang mebelit kakiku. Aku mendengar desaku tumbuh menjadi kota, sawah-sawah berubah menjadi pasar. Dan di belakang pasar itu tumbuh gedung-gedung yang megah. Matahari senja yang turun selalu terjepit diantara gedung-gedung bertingkat itu. Jalanan setapak di depanku kini beraspal, dan diujungnya bersambung dengan jalan tol. Hanya tinggal aku dan pohon beringin yang masih tertinggal dari masa lalu. Muncul jalan kereta api entah darimana, dan dibelakang punggungku nampaknya dibangun stasiun. Aku hanya mengira-ngira karena aku tidak bisa menoleh. Tapi kulihat orang-orang menggendong ransel, menyeret kopor dan berjalan tergesa-gesa karena takut terlambat. Dunia telah menjadi tempat yang sangat riuh. Aku terus menerus menatap kedepan menunggu seorang wanita yang indah muncul pada suatu senja sambil menenteng kepala iblis. Kemudian para petugas dari kotapraja membuat pagar disekeliling pohon beringin itu. Mereka menancapkan sebuah papan didekat pagar bertuliskan keterangan tentang diriku. Di dalam stasiun, kios-kios koran dan majalah juga menjual buku kecil yang menceritakan riwayat hidupku. Sambil menunggu kereta api orang-orang suka melewatkan waktu memandangku. Mereka mengeja keterangan dipapan itu, atau membaca buku kecil yang dijual murah itu sambil menatap diriku. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang mengangkat bahu, ada yang bibirnya mencibir. Banyak juga yang senang berfoto-foto dengan latar belakang aku. Pasangan-pasangan berpelukan didepanku, minta tolong kepada orang-orang yang lewat supaya dipotret. Rombongan turis juga suka bergerombol, berfoto bersama didepanku sambil tertawa-tawa. Pemandu mereka biasa berteriak-teriak lewat corong pengeras suara.
“Inilah patung Lelaki Yang Menunggu Kekasihnya. Patung ini tidak dipahat oleh siapapun karena dia berasal dari manusia yang hidup. Duaratus tahun yang lalu ia berpisah ditempat ini dari kekasihnya, yang pergi untuk …”

***

Suatu ketika kulihat gadis manis yang datang bersama neneknya itu, tapi kali ini ia datang bersama seorang lelaki yang nampaknya juga akan berpergian naik kereta api.
“Lihatlah patung ini, ” ujar lelaki itu, “Dia orang yang menunggu kekasihnya sampai jadi patung.”
“Aku tahu,” kata gadis itu, “nenekku yang cerita.”
“Kamu bisa seperti dia?”
“Maksudmu?”
“Bisa menunggu aku sampai aku kembali?”
“Aku selalu setia padamu, kapan kamu kembali?”
“Kalau tugasku sudah selesai.”
“Apa tugasmu?”
“Membunuh Iblis.”
“Tapi iblis tidak pernah mati!”
“Aku tidak peduli. Harus selalu ada orang yang membunuh iblis, meskipun iblis tidak akan pernah mati.”
Terdengar peluit kereta api. Mereka berpelukan dan berciuman. Lantas lelaki itu memasuki stasiun. Kulihat gadis itu melambai-lambaikan tangan.
Esoknya dia datang lagi. Duduk dibangku yang ada dihadapanku sambil meberi makan burung-burung dara. Sebentar-sebentar dia melihat jam tangannya.
Aku tahu, dia akan terus menunggu di bangku itu, sampai jadi patung.



Jakarta, 23 januari 1999

Iblis Tidak Pernah Mati | Patung | Halaman 159-171
Seno Gumira Ajidarma

Sebenarnya banyak dijumpai pula "patung-patung" disekitar kita. Patung yang dimaksud adalah orang yang mengesampingkan rasionalitas karena terlalu dimabukkan oleh apa yang dilihatnya baik. Tetapi apa yang dianggapnya baik, belum tentu sepenuhnya baik. Karena baik yang sesungguhnya hanya bisa dilihat dengan pikiran yang terbebaskan, yang tidak dilabeli.