Kamis, 05 Juli 2012

Maybe I am OTD (over-thinking disorder).

Kata diatas memang tidaklah berlebihan, saya adalah tipe orang yang berusaha selalu / terlalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan mungkin itu pula yang membuat saya terlalu banyak menimbang-nimbang apa yang akan saya lakukan. Semisal saya esok hendak bepergian ke tempat wisata yang belum pernah saya kunjungi, maka jauh hari saya sudah memikirkan dan membayangkan tempat yang akan saya datangi, mempersiapkan apa yang harus saya bawa, mencari data di internet mulai dari lokasi geografi, jarak tempuh, suhu, oleh-oleh khas, tradisi , apa yang akan dilakukan, apa rencana cadangan dan sebangsanya lalu mencatat dan menyusunnya di buku hitam saya. 


Memikirkan apa yang belum terjadi sebenarnya mempunyai imaji tersendiri, disatu sisi memikirkan apa yang akan diperbuat memanglah baik karena saya bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, namun terlalu linier dengan cara berpikir tentunya tidak baik pula. Memikirkan pribadi sendiri saja terkadang kita masih harus berusaha lagi, apalagi mempelajari  orang lain (sifat / karakter / kebiasaan). Namun manusia sebagai makhluk sosial tentunya dituntut untuk bersosialisasi karena sebagai manusia kita tidak mungkin hidup sendiri. Sekecil apapun bentuknya setiap manusia pasti pernah mempelajari orang sekitarnya, semisal ada dua anak kecil ana dan andi, ana adalah anak yang selalu ditipu oleh andi, lama kelamaan ani akan menanamkan dalam pikirannya sikap kehati-hatian kepada andi agar tidak ditipu lagi, hal itu berarti ana sudah bisa mempelajari kebiasaan andi. 
Permasalah yang dihadapi manusia dewasa tentunya lebih kompleks dan tidak semudah permasalahan yang dihadapi anak kecil. Memikirkan hubungan antar individu, dengan teman, orang tua, gebetan atau pacar mempunyai keunikan tersendiri, dan saya terkadang suka melakukannya. Dalam artian ketika saya memikirkan apa yang menjadi pertanyaan dalam benak saya dan menemukan titik terang pastinya saya senang, namun lain halnya ketika pertanyaan tentang hubungan antar individu tersebut muncul dan tidak mendapat jawaban dan akhirnya berada di suatu titik buntu. 


Saya mempunyai banyak teman  yang begitu dekat, begitu akrab bahkan seperti ketan. Saya suka hal baru, orang baru, saya bisa dekat dengan orang baru bahkan begitu dekat hanya dalam waktu yang singkat, namun tidak sedikit juga yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan ada juga yang malahan semakin menjauh. Teman saya menanyakan satu pertanyaan ini setelah bertandang ke rumah saya "Yo, aku kemaren liat adikmu dirumah diem banget trus dia kalo diluar gimana? apa kaya kamu kalem kalo belum kenal tapi rame orangnya kalo uda akrab gitu?" saya memang orang yang rame dalam artian ga bisa diem jika berada dihabitat nyamanya (dengan orang-orang yang sudah dirasa akrab / nyaman). Saya terlebih dahulu akan berusaha mempelajari / terlalu mempelajari orang yang saya belum kenal, mempelajari disini dalam arti bisa menanyakan langsung kepada orang tersebut,  orang terdekatnya atau mempelajari dari aktifitasnya di jejaring sosial  (beda dengan KEPO ya) dilihat bagaimana cara berbahasanya, tingkah lakunya, foto-fotonya walaupun jejaring sosial itu tidak 100% menjadi jaminan mencitrakan si pemilik akun . Saya rasa ini perlu dilakukan karena tidak semua orang bisa menerima cara saya bersosialisasi seperti antara saya dan teman-teman saya, berarti setelah saya mempelajari orang baru dalam hidup saya, saya akan mengklasifikasikan apakah dia bisa masuk kedalam model pertemanan saya seperti biasa atau dia mendapat pengecualian (kan ada tipe orang yang mudah tersinggung) saya harus berhati-hati. Dalam setiap hubungan saya berusaha mereka tetap nyaman dengan kondisi itu namun tidak juga menyingung perasaan. Saya mungkin termasuk orang dengan daya imajinasi yang cukup tinggi, semisal ketika saya melihat satu foto atau mendengar cerita tentang seseorang (apalagi orang yang saya sayang) saya bisa membayangkan bagaimana perasaan orang dalam foto cukup melihat dari ekspresi, seolah foto tersebut bercerita banyak, namanya juga imaji walaupun ga sepenuhnya benar tapi cukup kok mengisi otak saya. Lebih ekstrim lagi saya akan berusaha mencari informasi dimana, kapan, dengan siapa orang dalam foto / cerita tersebut dan saya akan mereka ulang kejadian dengan datang di tempat orang dalam foto / cerita itu diambil / diceritakan diam disitu berjam-jam dan berusaha kembali ke waktu lampau sama seperti orang itu berada dulu. Semisal orang dalam foto / cerita tersebut adalah seorang wanita yang aku suka dan dia adadisitu bersama pacarnya dulu, aku memikirkan bukan bagaimana kelak kita bersama (jika memang jodohku). Disini aku memikirkan ternyata waktu sudah terlewat, dulu kamu pernah bahagia dengan seseorang dan dulu aku juga punya kisahku sendiri sebagai manusia kita tidak bisa pulang kembali ke waktu itu dan menghapusnya, menghapus? untuk apa menghapus kenangan? Kenangan memang harus terjadi, apapun yang dituliskan kenangan itu. Dan apabila selanjutnya kita memang tidak berjodoh aku akan memikirkan foto / cerita tersebut sebagai kisah terindahmu, walaupun dia sebagai pelaku tidak menilainya lagi seperti itu.


Mungkin juga karena saya terbiasa mempelajari orang disekitar dan merekam apa yang biasanya akan dilakukan menjadikan saya tempat sampah curhatan. Memberikan saran walaupun tidak sepenuhnya benar tapi setidaknya menjadi pendengar yang baik dan tidak menceritakan kepada publik masalah mereka sudahlah cukup. Ya itulah manusia, melihat, menilai manusia lain itu gampang tetapi menilai diri saya sendiri ,mencari kesalahan sendiri susahnya minta ampun itu yang  menjadikan beberapa orang menjaga jarak dengan saya ditambah lagi mereka yang tidak mau mengungkap didepan saya. Disatu sisi saya bisa sangat peka, namun bisa juga begitu tumpul melihat apa yang terjadi.

Seorang teman berkata "Sudahlah ada kalanya sesuatu itu tidak perlu terlalu dipikirkan"

Mengamati dan mempelajari walaupun penilaian kita itu semua salah, tetapi mempelajari orang lain memberikan satu cerita gambaran baru tentang kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar