Selasa, 03 Juli 2012

Kemelekatan


Bersemi dan entah kapan kembali.
Mewangi dan tetap akan mewangi.

Kuta Bali - Andre Hehanussa


Lagu ini menuntun tanganku menuju rak mengambil novel karangan Moammar Emka yang aku dapat dari seorang teman 3,5th yang lalu. Sekilas sampul novel ini terlihat biasa, namun jika meraba diatas judul Kuta Bali ada lirik lagu yang tercetak timbul disana. Begitu menggebunya aku menginginkan novel ini saat itu. Sungguh novel yang penuh cerita dibalik cerita yang disuguhkannya sendiri. Mendapatkan novel ini bukanlah perkara gampang, beberapa toko buku di Jogja bahkan Solo aku singgahi tapi hasilnya nihil. Ahha, tetapi begitu gampangnya temanku menemukannya dan membelikannya untukku. 

Mengkoleksi, membaca dan memandang barisan buku yang semakin lama makin memenuhi rak diatas tempat tidur memanglah menyenangkan. Ada kepuasan batin tersendiri ketika kita menginginkan sesuatu, berusaha mendapatkan dan menjaganya. Hingga seorang teman beberapa waktu lalu menghubungiku mencari donatur buku untuk disumbangkan di suatu desa di pulau seberang tempat dia KKN nanti. "Uda Yo sumbangin aja buku-bukumu, atau gak National Geographic-mu" memang sih dia tidak memintaku untuk menyumbangkan novel Kuta Bali ini atau novel sejenisnya, karena dia lebih mencari buku edukasi atau majalah yang dapat membuka wawasan orang di tempat dia KKN. Jelas dong aku menolak, mendapatkannya saja susahnya minta ampun masa disumbangin begitu saja. Sejenak aku teringat  cerita Jalaluddin Rumi yang rela membakar buku-buku demi menggapai pengalaman-pengalaman esktase (rasa kenikmatan yang sangat besar yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu, terpilih dan tidak sembarangan.) sesering mungkin. Keterikatan atau kemelekatan pada sesuatu benda atau orang memanglah tidak baik, seperti dalam ajaran Budha
Kemelekatan adalah sikap memberikan penilaian yang berlebihan pada suatu objek atau orang kemudian menempel padanya. Dengan kata lain kita membayangkan kualitas yang sebenarnya tidak dimiliki pada orang dan benda-benda, atau melebih-lebihkan yang mereka miliki. Kemelekatan adalah pandangan tidak realistis sehingga mengakibatkan kebingungan.
Melepas kemelekatan bukan berarti kita melepaskan semua milik kita dan tinggal di gua. Tidak ada yang berbahaya dengan kepemilikan harta / benda / orang yang kita sayang. Kita membutuhkannya untuk bertahan hidup. Masalah muncul hanya jika kita tidak memandang pentingnya harta / benda / orang yang kita sayang dengan realistis. Kemelekatan dan ketergantungan menimbulkan masalah tersebut, bukan harta / benda / orang nya. Dengan terbebas dari kemelekatan, kita dapat menikmati harta / benda / orang tersebut.

Yahh, aku harus belajar merelakan, belajar membakar buku (mengkosongkan pikiran) seperti Jalaluddin Rumi,  belajar tidak melekat pada suatu benda atau orang agar aku mendapatkan "esktase" ku sendiri. Selamat dini hari, selamat beraktifitas dimanapun kamu berada. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar