Jumat, 29 Juni 2012

Nomaden #hore


Berawal dari keprihatinan 5 anak manusia Rio, Ardi, Henny, Arum, Renny  melihat bencana erusi merapi 2010 lalu, kami merasa terpanggil untuk membantu korban bencana selagi banyak mahasiswa/i disuruh pulang orang tuanya karena khawatir merapi meletus hebat saat itu. Hujan pasir dan hujan debu memperparah keadaan jogja. Pada awal bencana, Nomaden bergerak mencari dana di sekitar kampus. Lalu dana yang terkumpul waktu itu dibelanjakan nasi bungkus untuk dikirim langsung ke posko bencana di Van Lith Muntilan. Bukannya gampang berkendara diatas pasir dan lumpur tebal dijalan, kedua yang membawa nasi bungkus sepat tergelincir beberapa kali saking licinnya jalan. Melewati jalan Magelang serasa memasuki wahana di dunia fantasi alangkah luar biasanya kekuatan alam, batu-batu berasal dari Merapi seukuran mobil di Kali Putih yang merontokkan jembatan, pohon-pohon kelapa yang tertutup pasir dan kanopi rumah yang kompak ambruk karena tidak kuat menopang beratnya pasir dan debu.

Kami pada waktu itu berkoordinasi dengan posko bencana Momento Cafe Jl Jembatan Merah (Sekarang di Ringroad Utara), posko momento juga membuka gerakan nasi bungkus untuk disebar ke posko-posko yang belum tersentuh bantuan pemerintah. Posko Momento Cafe digawangi Mas Peye berkoordinasi menggunakan HTnya untuk mencari posko mana yang belum tersentuh bantuan. Bantuan pemerintah Yogya pada waktu itu masih terpusat di Stadion Maguwoharjo saja. Selain aktif mencari dana Nomaden juga sempat membantu dapur umum bersama puluhan relawan lainnya di Momento Cafe, kupas bawang, potong wortel, bungkus nasi dan lainnya. Pelajaran pertama saat bencana itu adalah pikiran semua manusia yang sama yang ingin menolong dengan mengirimkan nasi bungkus atau mie instant alhasil ratusan bahkan ribuan nasi menjadi basi karena melimpahnya persediaan. Tetapi keperluan kecil yang tidak terpikir seperti pembalut, obat sakit ringan, susu bayi, bubur bayi malah menjadi keperluan vital yang terlupakan.

Sama seperti namanya Nomaden, kami selalu berpindah-pindah dalam membantu korban. Diantara kami ada yang membantu di posko SMP Kalasan bersama Mahasiswa Janabadra,dan bergabung dengan BNPB (Badan Nasional Penangulangan Bencana). Di posko kalasan  kami membantu angkut-angkut barang, membagikan makan prihatin juga melihat banyak orang kehilangan rumahnya. Di BNPB awalnya kami diberi kepercayaan mendata posko seperti lokasi posko, asal pengungsi, jumlah pengungsi, ketersediaan sarana penunjang, kebutuhan mendesak.  Karena tau kami mahasiswa/i informatika kami diberi kepercayaan untuk mengembangkan software sistem informasi lokasi pengungsi. Sistem informasi  tersebut menjelaskan lokasi pengungsi, jumlah pengungsi, pemerataan bantuan agar bantuan yang diberikan merata dan tidak terpusat di satu titik. Nah masalahnya, pada saat kami bertanya kepada atasan divisi IT apa tools yang digunakan untuk membuatnya, bapak itu tidak memberikan jawaban memuaskan (dianya sendiri seperti tidak paham cara membuatnya).

Kami merasa apa yang kami lakukan masih kurang dibandingkan dengan apa yang dirasakan korban, lalu saya mengirimkan sms ke saudara di Jakarta dan di Bandung memohon bantuan donasi. Puji Tuhan karena kepercayaan, banyak donatur yang turut menyumbangkan rupiah. Ini bukan masalah nominal yang diberikan sekali lagi bukan tetapi lebih kepada besarnya kepercayaan yang diberikan kepada kami, Nomaden. Jumlah bantuan terus mengalir, sampai-sampai suatu pagi saya mendapat pesan pendek bahwa pagi itu sudah ditransfer ke rekening jumlah uang yang menurut ukuran mahasiswa seperti kami sungguh luar biasa besar.

Nomaden tidak langsung membelanjakan semua uang tersebut, kami tetap berkoordinasi dengan Momento Cafe kebutuhan apa saya yang paling dibutuhkan dan dimana saja lokasinya. Berbekal informasi tersebut kami membelanjakan kebutuhan seperti bubur bayi, pakaian dalam, obat ringan, sembako lengkap. Bantuan sembako seperti beras, mie, minyak, gula kami bagi menjadi kantong-kantong kecil. Nomaden membelanjakan langsung di pasar Beringharjo, karena harga disana termasuk miring. Masalahnya sekarang, bagaimana membawa ratusan kantong sembako dan kebutuhan lain ke tempat terpelosok dengan medan yang dikabarkan ekstrim? Sekali lagi tangan Tuhan membuka jalan, kami mendapat bantuan dari PP VW region Jogja. Nomaden mendapat tumpangan 1 mobil VW Combie langsung disupiri oleh ketua PP VW Jogja. Ternyata mobil tua tetapi stamina mesin tetep ga kalah lo dengan mobil tahun 2000an. Untuk medan yang ekstrim ada juga Jeep yang siap membantu dari Cendra Hogy, anak ketua salah satu komunitas Jeep Jogja, tidak lupa Andy Zico untuk medan standart tidak lupa Albertus Ndaru dengan Pick Up nya siap membawa bantuan kayu bakar. Kalau semua mobil sedang dipakai mengirim bantuan nomaden tak surut semangat masih ada sepeda motor menemani kami, kami sempet lo ngirim bantuan berupa beras, perlatan masak yang segede gaban cuma pakai motor sampai ke Deles Klaten. Padahal medan yang kami tuju menanjak dan masuk daerah ring bahaya letusan 1.

Dari tragedi merapi ini kami mendapat banyak kenalan baru, kisah suka duka, manajemen emosi dalam kelompok pokoknya seru (diatas bencana kok seru). Yang terkesan sampai saat ini, saat aku bertemu dengan orang yang duduk bersama temannya di depan pintu sebuah ruangan. Jangankan no telp nya, namanya saja aku gak tau. Aku lupa bagaimana cara kita berkenalan, tapi ternyata waktu memang mempertemukan bahkan memperkenalkan kita.

"Terbuat dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi" - Kyoto Monogatari halaman 60 - Seno Gumira Ajidarma -

Ga kerasa selama itu Nomaden sudah menjelajah daerah Gantiwarno klaten, Deles Klaten,Dukun Muntilan, Mungkid Muntilan, Sawitan, Muntilan, Saban daerah Ketep, Promasan Kulon Progo, Piyungan. Penjelajahan belum sampai disitu, aku dan Ardi sempat diminta bantuan Pandhu teman dari Komunikasi UAJY untuk mendistribusikan bantuan dari artis-artis seperti Nicholas Saputra dan crew fim di Jakarta. Benar, malam itu aku meluncur ke rumah Devi Carisa di daerah Muntilan yang dijadikan base camp. Malam itu datang bantuan 1 truck berisi genset 2200w sebanyak 10 buah dan beberapa karung pakaian layak pakai dari artis-artis, susu, bubur bayi dan uang untuk dibelanjakan bantuan sembako. Gila bagi 10 genset gimana caranya biar tepat sasaran? Untung di masa modern ini ada Twitter yang bisa di menyebarkan informasi daerah mana yang listrik masih padam dengan cepat. Genset itu hibah dari donatur industri film Indonesia. Malam itu datang pula dari Jakarta Pak Yadi Sugandi, bapak-bapak dengan kacamata tebal dan perawakan agak kurus yang mengawal distribusi bantuan. Ternyata Pandhu dan Pak Yadi Sugandi belum pernah bertemu namun mereka terlihat akrab sekali. Twitter ternyata penyebannya. Keesokan harinya, aku Pandhu dan Pak Yadi Sugandi meluncur ke salah satu daerah di Borobudur untuk meninjau langsung distibusi bantuan. Dan disitu aku baru tau, ternya Pak Yadi Sugandi adalah seorang sinematografer yang juga sutradara film "MERAH PUTIH". Bawaan Pak Dop sapaan akrabnya sangat merendah, gak sombong pokoknya seru lah. Setelah kepulangan Pak Yadi Sugandi ke Jakarta masih ada satu genset yang dipinjamkan, kali ini bukan genset biasa. Genset 60.000w seukuran bak truck beserta BBM dipinjamkan untuk bantuan distribusi listrik. Bayangin aja, genset untuk konser dipakai buat sumber listrik desa yang rata-rata daya tiap rumah 400-900w. Listrik 1 desa bisa terpenuhi, bahkan lebih. Biaya BBM genset ini gak murah lo, per malam (asumsi 12 jam)  sekitar 300-400rb, itupun dibiayai dari donatur wahh banyak juga orang kaya yang inget orang menderita ya. Setelah semuanya mulai kondusif, pemerintah mulai ambil peranan menjalankan kewajibannya menngatasi bencana.

Nomaden diundang Relawan Momento Cafe ke acara "Malam Relawan". Bertempat di base camp Momento Cafe di Jl. Jembatan Merah , malam itu semua relawan berkumpul bernyanyi bersama dan menikmati sajian yang semuanya gratis. Seru berkumpul, bercerita, berbagi pengalaman bersama apalagi ada Djaduk Ferianto yang ikut memeriahkan. Nomaden Hore semoga kita bisa bersama lagi tanpa harus terjadi bencana, di acara nikahanku kali ya kalian jadi WO nya? (Kalau nikah :D )

2 komentar: