Kamis, 14 Juni 2012

 Pengadilan

Dalam rangka mengungkapkan kemarahan Anda, pertama-tama Anda harus mencari pembenaran bagi diri Anda sendiri. Anda harus meyakinkan diri bahwa itu pantas, tepat, benar. Di dalam proses batin yang marah, seolah-olah sedang terjadi sebuah pengadilan dalam pikiran Anda.

Terdakwa berdiri di atas panggung pengadilan dalam pikiran Anda. Anda adalah jaksa penuntutnya. Anda tahu mereka bersalah, tetapi supaya adil, Anda harus membuktikannya kepada hakim,kepada hati nurani Anda terlebih dahulu. Anda lalu meluncur ke dalam rekonstruksi "kejahatan" yang melawan Anda.

Anda menuduhkan segala jenis kedengkian, sifat bermuka dua, dan niat buruk di balik semua perbuatan terdakwa. Anda mengungkit kembali semua "kejahatan" mereka pada masa silam untuk meyakinkan hati nurani Anda bahwa mereka tak pantas untuk dikasihani.

Dalam pengadilan yang nyata, terdakwa juga punya pengacara yang diizinkan untuk bersuara. Tetapi di dalam pengadilan batin, Anda sedang dalam proses untuk membenarkan kemarahan Anda. Anda tak ingin mendengarkan alasan-alasan yang menyedihkan, penjelasan-penjelasan yang tak dapat dipercaya, atau rengekan cengeng mohon pengampunan. Pengacara tak diizinkan membela terdakwa. Dalam argumentasi yang berat sebelah, Anda tengah membangun kasus yang meyakinkan. Dan itu sudah lumayan bagus. Hati Anda mengetok palu dan memutuskan para terdakwa: BERSALAH! Sekarang barulah kita tak apa-apa marah kepada mereka.

Beberapa tahun yang lampau, inilah proses yang saya lihat terjadi di dalam pikiran saya bilamana saya marah. Hal ini tampaknya tak begitu adil. Jadi lain kali ketika saya ingin marah kepada seseorang saya diam sejenak untuk membiarkan "pengacara" pembela terdakwa menyatakan pembelaannya. Saya merenungkan alasan-alasan dan penjelasan yang masuk akal tentang perilaku terdakwa. Saya mementingkan indahnya pemberian maaf. Saya menemukan bahwa suara hati tidak lagi membolehkan adanya putusan bersalah. Jadi, tidak mungkinlah untuk menghakimi perilaku orang lain. Kemarahan, karena tak dicari-cari pembenarannya, akhirnya kelaparan, dan mati.

AJAHN BRAM-Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 
Cerita ke 29 | Halaman 77 


Ada masa muda...
Ada masa tua...

Ada kelahiran....
Ada kematian...
Terima...terima...
terimalah...
Alam memang sudah
mengaturnya
Krishnamurti-Tundukkan Setan Pikiranmu
Tips 25 | Halaman 63

Hidup ini memang penuh dengan dualitas (baca muda-tua, kaya-miskin, tinggi-rendah, baik-jahat dst) memilih salah satu yang baik tentu pilihan banyak orang. Namun memeluk keduanya akan lebih indah akhirnya. Mendekap yang baik menendang yang jahat tentu semua orang bisa melakukan itu, namun kita diciptakan dengan hati yang bisa dilatih untuk menerima keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar