Kamis, 14 Juni 2012

Mereka, Kita

Diperjalanan pulang sore tadi terlintas di pikiran tentang mereka. Mereka yang berteriak, berlari-lari , saling mencela, saling memberi. Sudah setahun sejak kelulusan pertama diantara kita berlalu. Kerinduan untuk selalu ngumpul bareng diatas kasur,bercengkrama. Defi(Erot), Vika(Puff), Santi(Kresek), Titin(Ogeb), Minda(pipi), Christa(Sasya),  Sabrina(Sapina), Bowo, Yosef(Buncit), Rudy(Tua). Satu persatu diantara kita mengejar  cita-cita masing-masing, namun aku yakin kita akan selalu menjadi STMJ  (Semester Tujuh Masih Jomblo) walaupun tidak semua diantara kita jomblo.
Ya STMJ dalam suka dan duka. Kangen sama Defi dan kasur empuknya yang setia menjadi keset
sepulang kuliah dulu. Defi selalu ngomel kalau aku langsung naik ke kasur itu tanpa cuci kaki
terlebih dahulu. Ngejekin Vika nyonya puff atau ikan buntel, dan selalu ngebahas cewek dijalan setiap
dia bonceng aku. Menindas Santi kresek sampai mati kutu, membandingkan Titin dan kedua adik kembarnya yang cantik hahahah sungguh menyenangkan bersama kalian. Minda dengan pipi bakpaonya yang ingin dimakan semua orang kelaparan, Sasya yang polosnya ga ketulungan. Pernah waktu itu, sewaktu beberapa
anak STMJ KKN di Kulon Progo dan beberapa anak STMJ lainnya datang mengunjungi diam-diam tanpa
sepengetahuan ADPL Sasya dengan polosnya salah mengambil sandal DPL yang tiba-tiba datang inspeksi.
Sabrina dengan tubuh mungil yang sering dipanggil lemak, huuu kasian. Bowo dengan ciri khas "Emang Napa" nya yang kadang membuat orang ilfil. Buncit yang selalu ditinggal setiap iring-iringan, dan Rudy tua yang selalu menjadi bahan empuk ejekan ketuaannya. Mungkin 2 momen yang paling terkenang diantara kita sewaktu STMJ merayakan ultah pertama, Ya kita sewa 1 privat room di Own Cafe Sagan 13-14 February 2011. Kita menghabiskan malam di hari kasih sayang, hari yang benar-benar kita berbagi satu sama lain. Lalu Trip Dieng kita beberapa hari, dengan banyak kenangan di setiap objeknya, Bermain UNO, mendaki bukit mengejar matahari terbit, gorengan sikidang dan tentu banyak kenangan indah lainnya. Sempat aku berfikir, kenapa Tuhan menuliskan aku untuk bertemu mereka, belajar bersama mereka? Kadang aku bertanya, kenapa aku tidak kuliah ditempat yang selalu aku banding-bandingkan. Sifat manusia kebanyakan
akan puas setelah ini, setelah itu hanya berlarian dalam pikirannya. Tetapi jika kita menurutinya itu tidak ada habisnya, tidak ada cukupnya. Seperti filsafat jawa, manusia hanya akan merasa cukup setelah ada "cungkup" di kuburannya nanti. Tapi kini aku tau apa jawabannya, jawaban kenapa aku harus bertemu mereka. Apa jawabannya....?

Cukup aku dan Tuhan yang tau hahaha.

               Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!” Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. 

 Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta | Halaman 68 
Seno Gumira Ajidarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar